Marak Pembobolan Rekening, Polri Minta Masyarakat Berhati-Hati Gunakan Data Pribadi

“Jadi, mereka terus mempelajari itu,” kata mantan Karopenmas Divhumas Polri itu.
Selain skimming, modus kejahatan lain terhadap nasabah dan bank, yakni penggunaan data pribadi. Data tersebut digunakan untuk membuat kartu ATM dan buku rekening baru atas nama korban di cabang berbeda.
Untuk modus ini, lanjut Dedi, pihaknya juga masih mendalami dengan melihat berbagai kemungkinan, seperti sumber kebocoran data pribadi korban.
Dia juga menyebut tidak menutup kemungkinan dugaan adanya keterlibatan nasabah pada aksi kejahatan tersebut.
“Pelaku kejahatan dapat membuat identitas baru dengan menggunakan data pribadi yang dimiliki korban, bahkan sampai mengetahui nama ibu kandung nasabah,” imbuhnya.
Dedi pun mengimbau masyarakat lebih berhati-hati saat menggunakan ATM, termasuk mengirim data pribadi ke pihak lain.
Dia juga mengimbau masyarakat jangan terkecoh dengan mengirimkan informasi pribadi ke call center, website, sms, dan akun palsu yang mengaku resmi perbankan di sosial media.
“Masyarakat tetap menyimpan uangnya di bank, tidak perlu risau dengan sistem keamanan. Sebab, modus operandi yang dilakukan pelaku umumnya memanfaatkan kelengahan nasabah,” pungkas Dedi. (cuy/jpnn)
Polri meminta kepada masyarakat lebih berhati-hati dalam menggunakan data pribadi untuk mencegah terjadinya kasus pembobolan rekening.
Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan
- RUU Polri Belum Masuk Prolegnas, RUU KUHAP Justru di Depan Mata
- Tambah Kekuasaan Bukan Memperbaiki Pengawasan, RUU Polri Dinilai Menyimpang
- Sahroni Puji Keberhasilan Gugus Tugas Ketahanan Pangan Polri Tingkatkan Hasil Panen Jagung
- Dedi Mulyadi Ungkap Kriteria Pelajar yang Dikirim ke Barak TNI
- PPATK Apresiasi Kinerja Pemerintah dan Polri dalam Penindakan Judi Online
- Keberadaan Kasat Reskrim Iptu Tomi yang Hilang saat Memburu KKB pada 2024 Masih Misteri