Maria Ressa

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Maria Ressa
Maria Ressa. Foto: REUTERS/Eloisa Lopez

Muratov secara konsisten membela hak jurnalis untuk menulis apa pun yang mereka mau tulis. Berbagai investigasinya membongkar penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh Putin.

Berbagai ancaman diterima Muratov, tetapi ia bergeming dan tetap melakukan liputan investigasi dengan gigih.

Ancaman keselamatan nyawa yang dihadapi Muratov tidak kalah besar dibanding Ressa. Putin adalah mantan komandan KGB, dinas rahasia komunis di bawah Uni Soviet.

Putin memerintah dengan tangan besi, dan tidak segan-segan menghilangkan nyawa pesaing politiknya. Oposan politik yang lari keluar negeri pun dikejar dan dibunuh.

Dalam kondisi demikian, Muratov mengoperasikan medianya dengan independensi tinggi dan profesionalisme yang total. Komite Nobel melihat perjuangan Muratov ini sangat penting dalam upaya menjaga kelangsungan demokrasi di Rusia.

Bagi jurnalis di seluruh dunia, kemenangan Ressa dan Muratov menjadi inspirasi. Kemenangan ini muncul bersamaan dengan dirilisnya hasil investigasi Pandora Papers yang membongkar praktik jahat beberapa elite pemimpin dunia dalam skandal penggelapan pajak. 

Dua menteri Indonesia, Luhut Pandjaitan dan Airlangga Hartarto, tercantum dalam laporan Pandora Papers itu.

Bagi jurnalis di Indonesia, kemenangan Ressa dan Muratov menjadi wake up call atau bel alarm supaya bangun dari tidur panjang, dan bangkit untuk menjalankan fungsi sebagai alat kontrol sosial.

Haruskah pers di dunia termasuk Indonesia malu kepada Maria Ressa dan Dmitry Muratov?

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News