Menelepon Orang Tercinta Akan Memberikan Efek yang Sama dengan Memakan Kue Atau Cokelat

Menelepon Orang Tercinta Akan Memberikan Efek yang Sama dengan Memakan Kue Atau Cokelat
May Zaki menyarankan agar pertama-tama kita menghargai diri sendiri sehingga bisa menahan godaan untuk makan berlebihan. (Supplied)

"Ketika saya makan banyak, saya tidak ingin orang lain di keluargaku tahu bahwa saya makan sebanyak itu. Jadi saya menyembunyikannya di tempat sampah,” katanya.

Beberapa layanan dukungan kesehatan mental mencatat lonjakan permintaan terkait dengan gangguan pola makan selama lockdown, dan mereka yang tinggal di pedalaman lebih sulit mendapatkan bantuan.

Mengapa orang lari ke makanan saat sedih?

Mona Mattar, seorang psikoterapis dari Lighthouse Therapeutic, menjelaskan bahwa sangat biasa orang menggunakan makanan untuk menciptakan rasa nyaman saat menghadapi ketidakpastian seperti lockdown.

"Bagi kebanyakan orang, ketidakpastian menciptakan kecemasan, dan bagi sebagian orang hal ini dapat menyebabkan depresi," katanya.

"Ketika kecemasan dan stres tinggi seperti saat lockdown, tubuh akan melepaskan hormon stres yang disebut kortisol. Horman kortisol memicu keinginan mengonsumsi makanan dengan kandungan gula, lemak dan garam yang tinggi,” jelasnya.

Menurut May Zaki, kita suka makanan karena sudah terikat secara emosional sejak masih kecil, suka diberi hadiah permen dan es krim yang "lembut, manis dan beraneka warna".

Dia menyarankan untuk membangun kembali "hubungan yang sehat" dengan makanan, berlatih untuk bersyukur setidaknya selama lima menit sehari.

"Saat Anda mulai membiasakan bersyukur terhadap tubuh dan kesehatan, hubungan Anda dengan makanan akan berubah," katanya.

Pakar gizi dan psikolog di Sydney menjelaskan mengapa saat kita menghadapi situasi yang tidak menentu larinya malah ke makanan

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News