Mengenang 83 Tahun Perebutan Kapal Perang Belanda De Seven Provincien

Mengenang 83 Tahun Perebutan Kapal Perang Belanda De Seven Provincien
Sebanyak 20-an warga Sabu dan keluarga memperingaati tragedi perebutan kapal perang Belanda, De Seven Provincien di TMP Kalibata, Jumat (5/2) khususnya Pahlawan Nasional asal Sabu Provinsi NTT, Marthin M. Paradja. FOTO: Timor Express/JPNN.com

Sebanyak 20-an warga Sabu dan keluarga Kawilarang, mengawali dengan doa, dan dilanjutkan dengan penuturan sejumlah catatan sejarah pahlawan nasional itu dan diakhiri dengan tabur bunga.

Wartawan Senior dan pemerhati Sejarah asal  NTT, Peter A. Rohi dalam penuturannya mengatakan, pidato Bung Karno di Surabaya, pasca keluar dari Penjara Sukamiskin tahun 1932, membakar jiwa nasionalis pemuda-pemuda pribumi yang menjadi anggota Marine Belanda.

Kebangkitan nasionalisme para marine pribumi, mendapatkan momentum ketika beberapa bulan kemudian, setelah Pemerintah Hindia Belanda mengumumkan penurunan gaji para pelaut.

Demontrasi dilakukan di Surabaya untuk memprotes rencana pemerintah Belanda itu. Larangan demonstrasi dilanggar dan tak dapat dihentikan. Emblem Merah Putih bergambar Soekarno dan yel yel revolusi dikumandangkan.

Pada 3 Februari 1933, katanya, seorang Marine, Julian Henderik (Ludji He) memimpin teman-teman di sebuah gedung bioskop di Ulehle, Kotaradja (Banda Aceh), dengan izin melakukan halal bihalal, usai Idul Fitri 29 Januari. Tapi pada acara itu, mereka membahas taktik perebutan kapal.

Dalam rapat kedua yang lebih rahasia, yang dihadiri suku-suku seperti Madura, Bugis Makassar, Pelembang, Padang, Ambon dan Sunda Kecil.

Jermias Kawilarang diminta mengomandani kapal perang itu, sementara pemimpin pergerakan diserahkan kepada Martijn M. Paradja.(timor express/fri/jpnn)


Tanggal 4 Februari adalah tanggal terjadinya tragedi perebutan kapal perang Belanda, De Seven Provincien. Pemimpin pasukannya Marthin M. Paradja,


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News