Minta Ormas Radikal Ditutup, Ansyaad Mbai: Jangan Beri Kesempatan Mereka Muncul!

Minta Ormas Radikal Ditutup, Ansyaad Mbai: Jangan Beri Kesempatan Mereka Muncul!
Bagian analisis surat wasiat pelaku terorisme yang dilakukan Grafolog Deborah Dewi. Foto: Dok. pribadi

jpnn.com, JAKARTA - Aksi lone wolf (tindakan teror seorang diri  dan di luar struktur komando apapun) dikhawatirkan menjadi tren terorisme ke depan.

Menurut Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI) Islah Bahrawi, jika yang diperkuat hanya sektor hilir atau penindakan aparat penegak hukum, maka aksi teror itu dipastikan tidak akan berhenti.

Dia mengatakan untuk mencegah terulangnya aksi teror, pemerintah dan stakeholders terkait perlu memperkuat sektor hulu.

Sektor hulu yaitu memperbesar resistensi masyarakat harus terhadap radikalisme, khususnya dari keluarga. Masyarakat harus menyadari agama mengajarkan kemanusiaan dan kedamaian.

Dia mencontohkan di Thailand Selatan dan Srilanka yang berhasil membuat kultur dan budaya masyarakat tegas menolak radikalisme.

"Keluarga sangat penting (perannya) di sini, karena anak mencontoh orang tuanya. Ini beberapa konsep yang sudah dilakukan di beberapa negara,” tutur Islah dalam dalam Alinea Forum bertajuk 'Memperkuat Kontra Radikalisme' pada Rabu (7/4).

Dia mengakui penguatan resistensi terhadap radikalisme yang terkultur dalam masyarakat Indonesia tak bisa dicapai secara instan.

Membutuhkan waktu lama, langkah komprehensif, dan masif. Dia mengingatkan radikalisme tidak hanya terjadi pada agama tertentu, tetapi lintas agama dan ideologi.

Ansyaad Mbai mengajak masyarakat untuk bersatu melawan gerakan radikalisme yang menyusup melalui gerakan ormas dan politik.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News