Nilai Tukar Petani Turun Saat Panen Raya? ini Solusinya

Nilai Tukar Petani Turun Saat Panen Raya? ini Solusinya
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (baju putih tengah), melakukan panen raya dan serap gabah petani di Kelurahan Sepe'e, Barru, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, Senin (20/3). Foto: Ken Girsang/JPNN.com

jpnn.com - Nilai Tukar Petani (NTP) bukan ukuran terbaik menggambarkan kesejahteraan petani, namun diakui NTP layak dijadikan indikator kemampuan daya beli petani.

BPS merilis data Maret 2017, di mana terjadi deflasi sebesar 0,02 persen, sebagian besar 0,66 persen disumbang dari turunnya kelompok pengeluaran bahan makanan, sedangkan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan menyumbang 0,13 persen.

BPS menyebutkan NTP nasional Maret 2017 sebesar 99,95 atau turun 0,38 persen dibanding NTP Februari.

Demikian pada Februari 2017, NTP nasional juga turun 0,58 persen dibandingkan sebelumnya.

“Ya wajar NTP turun, Februari-Maret ini kan musim panen raya padi, musim hujan kadar air gabah tinggi, harga gabah menjadi jatuh, sehingga penerimaan petani ya berkurang," ujar Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional Winarno Thohir.

Kalau diperhatikan data lima tahun terakhir, Februari-Maret bahkan sampai April NTP turun merupakan fenomena bulanan saja.

"Saya optimistis beberapa bulan ke depan, NTP akan naik lagi," kata Winarno.

Winarno menambahkan, capaian produksi yang tinggi saat dipimpin Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat ini, mesti dilanjutkan dengan fokus pada penanganan aspek hilir dan pasarnya, sehingga pendapatan petani meningkat.

Nilai Tukar Petani (NTP) bukan ukuran terbaik menggambarkan kesejahteraan petani, namun diakui NTP layak dijadikan indikator kemampuan daya beli

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News