Olimpiade

Olimpiade
Orang-orang memprotes Olimpiade Tokyo 2020 di dekat Stadion Nasional Tokyo, sebelum upacara pembukaan pada Jumat malam. Foto: AP/Kntaro Komiya

Di Eropa, perhelatan Euro 2020 sukses besar. Penonton Eropa sangat antusias, dan siaran langsung seluruh pertandingan ke seluruh dunia disaksikan oleh ratusan juta orang. Namun, otoritas kesehatan dunia, WHO sudah mengingatkan bahwa bahaya besar mengancam karena besarnya kerumunan selama pertandingan.

Sekarang ini, dua minggu setelah perhelatan selesai, tingkat penularan virus di sejumlah negara Eropa naik lagi. Varian Delta sudah menyebar ke 100 negara di seluruh dunia, termasuk ke Eropa. Minggu ini kenaikan kasus di Eropa tercatat mengalami kenaikan sepuluh persen.

WHO menyatakan lonjakan kasus infeksi virus di Eropa ini disebabkan oleh kerumunan penonton yang memadati pub dan bar di kota yang menghelat pertandingan Euro 2020.

Eropa sukses menekan penularan sehingga menurun selama sepuluh pekan berturut-turut sampai pertengahan Juli. Sekarang, angka penularan melonjak lagi setelah perhelatan Euro 2020 selesai.

Menurut WHO, kenaikan kasus infeksi baru Covid-19 yang terkait pelaksanaan Euro 2020 itu diduga karena negara-negara penyelenggara melonggarkan aturan perjalanan dan protokol kesehatan.

Kritik juga datang dari pemerintah Jerman. Menteri Dalam Negeri Jerman, Horst Seehofer menyebut keputusan Asosiasi Federasi Sepakbola Eropa (UEFA), yang mengizinkan penonton memenuhi stadion, sebagai perbuatan yang sangat tidak bertanggung jawab.

UEFA menampik dengan mengatakan bahwa standar prokes tinggi sudah diterapkan untuk suporter yang menonton pertandingan.

Namun, kenyataan sekarang menunjukkan bahwa Eropa terkena penularan gelombang ketiga, dan kerumunan Euro 2020 dianggap sebagai penyebab utama.

Indonesia sendiri sedang menghadapi dilema mirip dengan Olimpiade Tokyo: PON 2020 digelar 2 sampai 15 Oktober 2021.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News