Jumat, 19 April 2019 – 19:48 WIB

Patahkan Stereotip, Milenial Ini Justru Bantu Keuangan Orang Tua

Selasa, 09 April 2019 – 22:00 WIB
Patahkan Stereotip, Milenial Ini Justru Bantu Keuangan Orang Tua - JPNN.COM

Ketika menyangkut keuangan, milenial cenderung mendapatkan tuduhan tertentu. Ada stereotip yang muncul bahwa generasi ini masih menggerogoti kekayaan orang tua, dari generasi baby-boomer, mereka.

Tapi itu tak berlaku untuk semua orang.

Dunia Darcy, bukan nama sebenarnya, berubah ketika ayahnya meninggal karena kanker pankreas enam tahun lalu.

Selain kesedihan karena kehilangan sang ayah, mencari tahu tentang situasi keuangan orangtuanya yang mengerikan adalah pukulan lain yang diterima Darcy.

"Tumbuh dewasa, kami tak pernah merasa miskin. Kami tak pernah meminta apapun, kami adalah keluarga yang cukup nyaman," kata pria berusia 32 tahun itu.

"Tapi begitu Ayah meninggal dan kami memiliki pemahaman yang jelas tentang keuangan -situasinya adalah bertahan hidup dari bulan ke bulan."

Orang tua Darcy telah berhasil membeli rumah pada tahun 1980-an, tetapi belum menyisihkan tabungan dan masih ada sebagian besar cicilan rumah yang harus dilunasi.

"Ibu dan ayah memiliki hubungan yang sangat tradisional - Ayah bekerja dan Ibu menjaga rumah," katanya.

"Ayah mengurus semua yang berkaitan dengan keuangan."

Untuk sebagian besar masa karirnya, ayah Darcy telah menjalankan bisnis sendiri, dan tak menyisihkan banyak untuk masa pensiun mereka.

Rencana menolong Ibu

Jadi Darcy dan kedua saudara kandungnya membuat rencana keuangan untuk membantu membayar cicilan rumah, termasuk transfer sekitar $ 800 (atau setara Rp 8 juta) dari Darcy ke rekening bank ibunya setiap bulan.

Bagian lain dari rencana itu adalah ibu Darcy harus kembali bekerja dan menerima anak kos untuk membantu menutupi cicilan rumah.

Ibu Darcy tidak bekerja selama 30 tahun dan memiliki pengalaman kerja yang sangat sedikit, tetapi ia mendapat pekerjaan paruh waktu.

"Ia bekerja di dapur sekolah tetapi keterampilannya terbatas, ia tak dibayar banyak," kata Darcy.

"Jadi, mempertahankan rumah adalah beban terbesar."

Namun menjual rumah dan pindah ke tempat yang lebih kecil belum menjadi pilihan.

"Ini juga sangat sulit karena ibu saya benar-benar terikat secara emosional dengan rumah ini - jadi ia tidak ingin meninggalkannya," kata Darcy.

Stres akibat rumah

Menurut Yayasan Mercy, perempuan lajang paruh baya telah muncul sebagai kelompok orang dengan pertumbuhan tercepat yang mengalami tekanan perumahan dan tunawisma.

Banyak perempuan, seperti ibu Darcy, berhenti bekerja untuk memiliki keluarga, dan perempuan rata-rata pensiun dengan nominal tunjangan setengah dari pria.

"Ini ada hubungannya dengan kesenjangan yang berkaitan dengan gender dan peran yang mungkin dimiliki perempuan pada 1950-an dan 1960-an," kata Dr Maree Petersen dari University of Queensland, yang meneliti orang-orang paruh baya dan kemiskinan.

"Kebijakan dan praktik yang diberlakukan berkaitan dengan pekerjaan, di mana perempuan diharapkan meninggalkan pekerjaan mereka dan memiliki keluarga - masih ada warisan dari itu."

Terlepas dari kesenjangan uang pensiun, bagi mereka yang terus bekerja, seringkali mereka juga dibayar lebih rendah dari rekan-rekan pria mereka.

Perempuan baru menerima upah yang sama untuk pekerjaan dengan nilai yang sama dengan laki-laki pada tahun 1972, tetapi masih ada kesenjangan upah gender, dengan perempuan yang bekerja penuh waktu rata-rata berpenghasilan $ 240 (atau setara Rp 2,4 juta) lebih rendah per minggu dibandingkan laki-laki.

Dan bagi kebanyakan orang, pensiun di usia tua saja tidak cukup untuk hidup nyaman di masa pensiun.

"Ini cobaan yang sempurna," katanya.

"Anda bisa mengatur hidup dari uang pensiun jika Anda memiliki rumah sendiri, tetapi tak demikian jika Anda membayar cicilan rumah."

"Bukan hal yang aneh bagi saya untuk berbicara dengan orang-orang yang membayar 70 persen dari uang pensiun mereka untuk cicilan rumah."

Bicara uang itu bisa sulit

Psikolog dan terapis hubungan, Sian Khuman, mengatakan uang adalah salah satu topik tersulit bagi keluarga untuk dibicarakan.

"Terutama ketika orang tua bertambah tua dan ada perubahan dalam dinamika, dengan generasi muda memberi tahu generasi yang lebih tua bagaimana mengelola uang mereka," katanya.

"Ada sedikit pembalikan peran. Tak ada yang ingin peran itu terbalik."

Sementara Darcy tak menganggap membantu ibunya secara finansial sebagai beban, hal itu telah berdampak besar pada pilihan hidupnya sendiri.

"Saya berada pada tahap di mana saya dan pasangan saya berencana membeli rumah kami sendiri, atau kami secara potensial berpikir untuk memulai keluarga kami sendiri dalam tiga hingga empat tahun ke depan," katanya.

"Tapi kami belum bisa menghemat banyak uang karena saya membantu ibu saya."

Mengajari keuangan

Khuman mengatakan uang dan waktu yang terlibat dalam merawat orang tua bisa menjadi sumber ketidakharmonisan yang besar dengan pasangan.

Hal ini jelas menjadi masalah dalam hubungan Georgie, bukan nama sebenarnya, dan Dave.

Pasangan Newcastle berusia akhir 20-an ini punya cicilan rumah, serta biaya yang terkait dengan berkeluarga di usia muda.

Tapi mereka menyerahkan sekitar $ 50 (atau setara Rp 500 ribu) per dua minggu kepada ibu Dave. Tahun lalu mereka membantunya membeli mobil bekas baru, dan membayar sebagian besarnya.

"Saya bilang itu rasa bersalah. Anda tak bisa mengatakan tidak kepada ibu anda. Sesederhana itu - tak ada orang lain yang bisa ia mintai bantuan," kata Georgie.

Ibu Dave berpisah dari suaminya sekitar 20 tahun yang lalu, tetapi pindah kembali dengan ibunya sendiri sampai saat ini.

"Ia tak pernah hidup sendiri dan melakukan hal-hal sendiri sebelumnya," kata Georgie.

"Kami mengajarinya cara membuat anggaran - ia tak pernah berpikir tentang itu sebelumnya."

"Minggu ini kami mengubah banknya menjadi rekening bebas biaya. Ini awal yang baik."

Georgie merasa situasinya membuat frustrasi, terutama karena ia merasa mereka melewatkan liburan dan kegiatan yang menyenangkan, sementara ibu mertuanya sering menghabiskan untuk kemewahan, bukan kebutuhan.

"Itu membuat anggarannya ketat. Ini benar-benar membuat frustrasi ketika kami hidup tanpa kemewahan tertentu dan melihatnya pergi dan berbelanja," katanya.

"Itu membebani hubungan saya."

Dan pasangan itu khawatir akan masa depannya.

"Ia tak mulai bekerja sampai 10 tahun yang lalu dan pensiunnya jauh lebih kecil daripada orang lain seusianya," kata Georgie.

"Ia akan segera masuk usia pensiun - dan ada peluang besar kami harus mendukungnya ketika ia berhenti bekerja."

Khuman mengatakan hal yang penting untuk berbicara tentang situasi itu secara terbuka jika hal tersebut menyebabkan ketegangan dalam suatu hubungan.

"Ini benar-benar tentang melakukan sebanyak mungkin percakapan dengan pasangan Anda, mencapai kesepakatan tentang apa yang Anda lihat sebagai posisi Anda dan kemudian mengambil keputusan bersama," katanya.

Perencana keuangan independen berlisensi, Tricia Peters, mendukung keuangan orang tuanya sendiri dan sekarang, melihat ke belakang, ia berpikir dirinya mengambil terlalu banyak tanggung jawab untuk masa depan mereka.

"Anda harus ingat orang tua anda adalah orang dewasa yang mampu, jadi anda harus menghormati pilihan mereka," katanya.

"Anda tak bisa masuk dan mengambil semua tanggung jawab, yang mungkin hal salah yang saya lakukan."

Tradisi yang diharapkan

Meski peristiwa besar dalam kehidupan seperti kematian atau perceraian bisa menciptakan kebutuhan akan dukungan finansial, bagi sebagian keluarga itu adalah tradisi yang diharapkan.

"Di masyarakat Asia ini standar," kata ilmuwan sosial Universitas Teknologi Sydney, Dr. Christina Ho.

"Itu mungkin sesuatu yang akan anda temukan di setiap benua. Ini lebih merupakan pemahaman tradisional tentang keluarga dan mungkin saja negara-negara Barat adalah pengecualian!"

Berbakti adalah nilai sentral dalam Konfusianisme dan merupakan penghormatan kepada orang tua dan sesepuh lainnya dalam keluarga.

Itu mungkin termasuk merawat mereka ketika mereka sudah tua atau memberikan kenyamanan materi.

"Tak hanya ada tradisi yang diharapkan agar anak-anak merawat orang tua mereka - di sebagian besar negara Asia tak ada cara lain bagi orang tua untuk dihormati," kata Dr Ho.

"Tak ada sistem kesejahteraan serupa yang dipraktekkan."

Hal yang umum bagi anggota keluarga yang pindah ke luar negeri untuk bekerja dan mengirim "uang transferan" ke negara asal untuk membantu keluarga mereka bertahan hidup.

Faktanya, pada tahun 2018, uang transferan seperti itu bernilai hampir $ AS70 miliar (atau setara Rp 945 triliun) terhadap ekonomi China, $ AS80 miliar (atau setara Rp 1,08 kuadriliun) terhadap ekonomi India dan sekitar $ AS34 miliar (atau setara Rp 459 triliun) di Meksiko.

Aturan tak tertulis

Valentina -juga bukan nama sebenarnya, yang sekarang tinggal di Australia, mengatakan kaum milenial juga mendukung orang tua mereka di banyak negara Amerika Selatan.

Pada usia 23 tahun, ketika ia lulus dari universitas dan memiliki penghasilan tetap, ia mulai mengirim sekitar $ 300 (atau setara Rp 3 juta) ke Kolombia.

"Orang tua tak mengatakannya kepada anda, tetapi semua orang melakukannya," katanya.

"Jadi, anda menganggap bahwa untuk menjadi putra atau putri yang baik anda harus berbagi kekayaan anda."

Valentina mengatakan tanpa dukungan finansial tambahan, orang tuanya hanya mampu membayar kebutuhan dasar.

"Adik saya melakukan hal yang sama. Jelas, mereka tak meminta apapun atau menyalahgunakan kami," katanya.

"Saya menabung setiap minggu dan membayar untuk hal-hal seperti perbaikan mendesak untuk rumah atau mobil mereka."

Tapi ia bilang ia tak mengeluhkan hal itu.

"Ibu dan Ayah bekerja keras sepanjang hidup mereka. Mereka membayar biaya universitas dan semua biaya saya sampai saya berusia 18 tahun," kata Valentina.

"Saya ingin mereka menikmati hidup sekarang dan punya uang cadangan."

*Nama asli narasumber diubah demi alasan privasi.

Ikuti berita-berita lain di situs ABC Indonesia.

 
SHARES
Komentar