Pembatasan Impor Kedelai dan Jagung Picu Kenaikan Harga

Pembatasan Impor Kedelai dan Jagung Picu Kenaikan Harga
Ilustrasi. Foto: JPNN

Rachmat menyatakan, kekhawatiran pengusaha terkait kekurangan bahan baku sangat berdasar. Selama ini, produksi kedelai tidak sampai satu juta ton. Sedangkan kebutuhan nasional pertahun mencapai tiga juta ton.

"Lalu yang dua ton? Gimana apakah masayarakat disuruh puasa, atau hentikan konsumsi. Jika tidak berhenti konsumsinya, maka akan naik harganya. Hukum ekonomi berlaku, permintaan tinggi, dan tidak ada pasokan. Maka, harga naik luar biasanya," katanya.

"Dampak besarnya bagi pengusaha biaya produksi semakin tinggi. Itulah yang disebut biaya melakukan kebijakan perdagangan harus ditimbang sesuai tingkat manfaatnya," katanya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) M. Maulana menilai, pemerintah harus mewaspadai kenaikan harga jelang puasa.

Menurut dia, tanda-tanda kenaikan harga sudah terlihat di beberapa komoditas seperti bawang, cabai, beras bahkan daging. Jangan sampai ada kenaikan lagi pada komoditas lain. Jika kenaikan hanya berkisar 20 persen masih wajar. Namun jika lebih dari itu, harus segera diamankan.

Untuk menstabilkan harga, ia juga meminta pemerintah memerbaiki data. Saat in,i produksi pangan dinilai masih kurang untuk memasok kebutuhan masyarakat. Kendati demikian, data yang disajikan tidak menampilkan hal tersebut. Akibatnya pemerintah telat mengambil kebijakan terkait impor dan lain sebagainya.

"Kalau kurang banyak ya harus antisipasi, misalkan sudah tahu permintaan banyak di puasa, jelang puasa tiga bulan kalau mau impor ya lakukan. Jauh-jauh hari jangan mendadak. Kalau mendadak pasti dikasih harga mahal sam negara lain," ujar Maulana.

Kelambatan impor sempat dialami saat El Nino 2015 lalu. Keterlambatan mengakibatkan stok beras menurun. Akibatnya, harga terkerek disusul dengan berbagai bahan kebutuhan pokok. (jos/jpnn)

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News