Peneliti BRIN: Kalteng Jadi Tempat Food Estate Sudah Tepat

Peneliti BRIN: Kalteng Jadi Tempat Food Estate Sudah Tepat
Peneliti BRIN Susilawati menilai tidak mudah menyulap lahan rawa Kalteng menjadi Food Estate. Foto: Dok BRIN

"Kalau di lahan rawa tidak bisa kita samakan, tetapi progressnya tentu ada. Untuk produksi yang optimal di lahan yang baru dibuat tentu butuh waktu yang panjang atau tidak semudah membalik telapak tangan," tegas Susilawati.

Pengelolaan Rawa

Menurut sumber indoagropedia.pertanian.go.id, lanjut Susilawati, berdasarkan penyebab genangannya, lahan rawa dibagi menjadi tiga, yaitu rawa pasang surut, rawa lebak, dan rawa lebak peralihan.

"Terdapat beberapa jenis rawa, kebetulan yang kita garap di Food Estate ini didominasi oleh jenis lahan rawa pasang surut," katanya.

Lahan rawa pasang surut itu, lanjut Susilawati, sangat dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut. Ada tipe luapan A, tipe luapan B, tipe luapan C dan tipe luapan D.

Menurutnya, untuk menyimpulkan apakah mudah atau tidaknya sebuah lahan rawa itu untuk pertanian, maka harus dilihat terlebih dahulu situasi luapan tadi.

"Petani lokal di kawasan food estate rata-rata sudah terbiasa mengelola lahan tersebut, terutama lahan tipe A dan tipe B yang dipengaruhi pasang surutnya air, terutama tipe B yang paling banyak dimanfaatkan untuk usaha tani padi," katanya.

Di tipe A atau B saat ini, sambung Susi, petani sudah mampu untuk mengahasilkan dua kali panen dalam setahun, tentunya dengan dibantu oleh sistem pengelolaan tata air. Manajemen air di dalam pertanian lahan rawa sangat penting, oleh karenanya, petani tidak dapat berdiri sendiri tanpa ada bantuan dari pemerintah.

Peneliti BRIN Susilawati menilai tidak mudah menyulap lahan rawa Kalteng menjadi Food Estate, tetapi luasnya tanah di wilayah itu cocok untuk pertanian.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News