JPNN.com

Penguatan Optimisme dari Ramadan dan Idulfitri

Oleh: Bambang Soesatyo, Ketua MPR RI

Rabu, 27 Mei 2020 – 09:20 WIB Penguatan Optimisme dari Ramadan dan Idulfitri - JPNN.com
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo atau Bamsoet. Foto: Humas MPR RI

jpnn.com - IBADAH puasa Ramadan dan IdulFitri 1441 H dilaksanakan serta dirayakan di tengah pandemi covid-19. Kemenangan Umat menjalani ibadah di masa-masa sulit sekarang menghadirkan hikmah berupa penguatan optimisme bagi upaya bersama memutus rantai penularan Covid-19, dan keberanian untuk secara bertahap memulihkan kehidupan.

Rasa cemas dan takut tertulari Covid-19 tidak menyurutkan semangat dan kehendak umat menjalani ibadah puasa Ramadan. Dalam suasana tidak nyaman karena kesadaran untuk karantina mandiri di rumah saja, puasa mewajibkan umat menahan lapar dan haus, serta diwajibkan membangun kehendak saling mengerti guna menyingkirkan emosi, amarah, iri dengki dan nafsu tak sehat lainnya.

Kesederhanaan merayakan IdulFitri 1441 H yang memuncaki ibadah Ramadan itu menandai kemenangan umat menjalani masa-masa sulit sekarang ini.

Setelah Ramadan dan IdulFitri, tantangan yang sama masih menghadang karena pandemi Covid-19 belum berakhir. Bisa saja data-data tentang perkembangan wabah ini di dalam negeri sedikit lebih dramatis.

Sesuai perkiraan sebelumnya, mobilitas masyarakat karena alasan menyongsong hari raya akan memengaruhi penambahan jumlah pasien Covid-19. Penambahan itu kemungkinan terjadi karena arus mudik dan arus balik, serbuan warga ke pusat belanja dengan tidak menaati protokol kesehatan, hingga arus masuk pekerja migran.

Kalaupun perkiraan itu menjadi kenyataan, masyarakat hendaknya tidak pesimistid. Demi kepentingan masa depan yang jauh lebih besar dan strategis, pada akhirnya semua orang harus mau dan berani memulihkan kehidupan secara bertahap dengan tetap menjalankan prinsip kehati-hatian sebagaimana ditetapkan dalam protokol kesehatan selama pandemi Covid-19.

Dalam upaya memulihkan kehidupan itu, semua orang, mau tak mau, harus siap ‘berdamai’ dengan virus corona. Berdamai tidak berarti merangkul virus itu dan membiarkannya menginfeksi setiap orang.  

Berdamai berarti manusia harus bersiasat agar siap hidup berdampingan dengan virus ini. Salah satu siasatnya adalah dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Bukankah para ahli memperkirakan bahwa virus Corona tidak akan sirna dalam jangka dekat.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
fri