Kamis, 15 November 2018 – 18:04 WIB

Penumpang Pesawat Indonesia Tak Terpengaruh Jatuhnya Lion Air JT 610

Kamis, 01 November 2018 – 16:00 WIB
Penumpang Pesawat Indonesia Tak Terpengaruh Jatuhnya Lion Air JT 610 - JPNN.COM

Aktivitas di Bandara Sekarno Hatta Jakarta masih berjalan normal pasca jatuhnya pesawat Lion Air JT 610. Tidak ada penurunan jumlah penumpang di bandara tersibuk di Indonesia ini. Masyarakat mengaku tragedi jatuhnya pesawat tersebut tak membuat mereka gentar menggunakan transportasi udara.

Tiga hari pasca jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, aktivitas di Bandara Sokearno Hatta (Soetta) Jakarta berjalan normal seperti hari-hari sebelumnya.

Menurut keterangan PT. Angkasa Pura II sebagai pengelola Bandara Soetta, pihakya tidak mencatat adanya penurunan jumlah penumpang akibat tragedi itu.

"Saya sudah koordinasi dengan teman-teman operasional, dari sisi penerbangan nggak ada itu yang masalah. Normal semuanya. Dan membicarakan traffic (arus keluar masuk) penumpangnya masih normal kok," jelas Yado Yarismano, Humas PT. Angkasa Pura II kepada ABC (1/11/2018).

Tiap harinya, bandara tersibuk di Indonesia tersebut dipenuhi oleh sekitar 170.000 penumpang pesawat. Dari jumlah itu, 70 persennya adalah para penumpang penerbangan domestik.

"Dampak (jatuhnya Lion Air) terhadap jumlah penumpang sampai sejauh ini tidak ada," imbuh Yado.

Salah satu pengguna rutin transportasi udara Indonesia yang tidak terdampak akibat insiden itu adalah Oktavijanto Putro, 53 tahun. Dalam satu bulan, pebisnis asal Jakarta ini bisa terbang lebih dari 8 kali.

"Seminggu itu minimal saya terbang dua kali. Ya kalau pebisnis pasti inginnya low cost airline tapi saya memang menghindari Lion Air," ungkap Oktovijanto.

Kepada ABC ia mengatakan, insiden jatuhnya Lion Air tak memengaruhi rutinitas terbangnya dari Jakarta ke beberapa kota lainnya di Indonesia.
"Kekhawatiran itu pasti ada, namanya manusia. Selama 10 tahun terakhir menjadi penumpang rutin penerbangan, beberapa kali ada insiden, tapi ya saya tetap terbang," tutur pebisnis bidang konstruksi ini.

Ia lalu mengatakan, dirinya tetap yakin para pemangku kepentingan di dunia penerbangan Indonesia masih mengutamakan keselamatan.

"Siapapun orangnya, pilot atau maskapainya pasti berusaha agar penerbangan itu aman."

Thamrin Hanafi, 49, juga merupakan pengguna transportasi udara Indonesia lainnya yang tidak terpengaruh insiden jatuhnya pesawat Lion Air.

Meski ia tak menggunakan maskapai bertarif rendah, Thamrin yang rutin terbang tiap 4 minggu berpendapat, musibah tidak bergantung pada jenis transportasi yang digunakan.

"Sebagai orang beriman ya harusnya kita serahkan saja semuanya ke Allah SWT," ujarnya kepada ABC (31/10/2018).

Thamrin memilih menggunakan maskapai dengan pelayanan penuh karena beberapa alasan.

"Saya merasa aman, kualitasnya dan memang nyaman," sebutnya.

Tarif tiket penerbangan dari Lion Air yang sebelumnya sempat diberitakan menyentuh harga Rp 150.000 untuk rute Jakarta-Singapura tak lagi ditemukan, baik di situs maskapai itu sendiri maupun di situs agen travel daring.

Untuk penerbangan dengan rute tersebut pada tanggal 28 November (seperti yang ramai diberitakan), tiket dibandrol dengan harga Rp 550.000 paling murah. beberapa kursi di jam tertentu bahkan sudah terjual habis.

Terbang rutin demi keluarga

Dari data Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS), diketahui bahwa jumlah penumpang pesawat terbang di Bandara Soetta hingga Agustus 2018 relatif meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Misalnya pada bulan Juli lalu, tercatat ada 2.132.260 penumpang di Soetta, meningkat 1,07 persen dibanding tahun 2017 di bulan yang sama.

Beberapa penumpang transportasi udara di Soetta, melakukan penerbangan rutin karena lokasi pekerjaan yang jauh dari keluarga.

Sony Setiawan adalah pengunjung rutin Bandara Soetta yang terbang tiap minggu dari Jakarta ke Pangkal Pinang. Ia adalah salah satu 'penyintas' tragedi jatuhnya Lion Air JT 610 karena terjebak kemacetan.

"Saya nggak jadi terbang karena kena macet di jalan," tutur pegawai Kementerian Keuangan RI ini kepada ABC (30/10/2018).

Tiap akhir pekan, selama dua bulan terakhir, Sony selalu terbang ke Jakarta dari Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, untuk menemui keluarganya di Bandung.

"Saya berangkat Jumat malam dari sini (Pangkal Pinang) lalu kembali dari Jakarta Senin pagi. Ini saya lakukan karena ingin menghabiskan waktu bersama keluarga, dan kebetulan pulaunya tidak terlalu jauh."

Sebelum pindah ke Pangkal Pinang, Sony juga melakukan penerbangan antar pulau hanya saja frekuensinya tak sesering 8 minggu belakangan.

Karena frekuensi terbang yang sangat rutin, ia memilih maskapai bertarif rendah yang dipesannya jauh-jauh hari. Ia mengalokasikan dana sebesar 1,1 juta untuk tiap perjalanan pulang-pergi.

Sony menyadari adanya faktor ketidakdisiplinan jadwal dari maskapai yang ia pilih namun ia punya alasan tersendiri.

"Kebetulan jadwal (terbang)-nya juga cocok, jadi itu yang dipilih dan pemesanannya dilakukan dari minggu-minggu sebelumnya."

Senada dengan Sony, Fira (bukan nama sebenarnya) -seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Bintan, Kepulauan Riau, juga memilih untuk mengamankan tiket penerbangan jauh-jauh hari demi menemui keluarganya di Jakarta tiap akhir pekan.

"Jadi misalkan sekarang bulan Juni, nah saya sudah pegang tuh tiket untuk bulan Juli. Jadi saya sudah aman, nggak cari-cari lagi," tutur perempuan 42 tahun ini.

Ia bahkan membeli paket penerbangan selama satu tahun yang ditawarkan salah satu maskapai bertarif rendah untuk menghemat pengeluaran.

"Lumayan sekali ada paket itu, PNS seperti saya sangat terbantu walau kadang jadwalnya ada yang tidak cocok."

Ia mengaku melakoni terbang rutin tiap akhir pekan karena tak ingin kehilangan banyak waktu bersama keluarga meski ia menjalani karir di luar pulau.

"Keluarga tidak ikut saya karena anak-anak sudah besar, sekolah lebih baik di Jakarta."

Fira menuturkan, ia mengalokasikan sekitar 6 juta per bulan untuk perjalanan udaranya dari Kepulauan Riau ke Jakarta.

 
SHARES
Komentar