Perempuan Menuju Seat F1

Perempuan Menuju Seat F1
Perempuan Menuju Seat F1

jpnn.com - ZURICH - Formula 1 sangat identik dengan olahraga lelaki. Memang, tidak ada aturan yang melarang perempuan menjadi pembalap F1. Tetapi, veteran pembalap F1, Sir Stirling Moss, pernah berujar bahwa perempuan tidak punya kapasitas mental untuk bersaing di F1.

Bukan berarti tidak ada pembalap F1 perempuan. Kali terakhir, ada Giovanna Amati pada 1992. Kiprahnya menjadi buah bibir, namun lebih kepada sisi marketing. Tahun lalu Williams juga merekrut Susie Wolff sebagai test driver.

Kemudian, ada Mario de Villota yang pernah menjadi test driver Marussia sebelum kecelakaan yang merenggut nyawanya. Nah, musim ini, kembali hadir pembalap perempuan. Bukan sebagai pembalap utama, melainkan pembalap penyokong.

Adalah Simona De Silvestro yang direkrut menjadi pembalap Sauber-Ferrari. Dia akan disiapkan untuk balapan 2015. Telah tercapai kesepakatan dengan Sauber bahwa musim ini dia akan mendapatkan kesempatan uji trek dan mengejar super licence. Team Principal Sauber-Ferrari Monisha Kaltenborn mengakui, upaya timnya itu dilakukan untuk mewujudkan mimpi adanya perempuan di seat F1.

Soal pengalaman, De Silvestro cukup mantap. Dia telah membalap di IndyCar Amerika Serikat empat musim terakhir. Prestasi terbaiknya adalah finis di urutan kedua dalam seri Houston tahun lalu.

''Setelah empat tahun di IndyCar, ambisi Simona adalah masuk ajang Formula 1 pada 2015. Kami menganggapnya pembalap yang sangat berbakat. Karena itu, kami memutuskan merekrutnya sebagai affiliated driver serta mendukungnya meraih puncak kasta tertinggi dunia motorsport,'' jelas Kaltenborn sebagaimana dikutip autosport. (cak/c17/ham)


ZURICH - Formula 1 sangat identik dengan olahraga lelaki. Memang, tidak ada aturan yang melarang perempuan menjadi pembalap F1. Tetapi, veteran


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News