Rabu, 24 Oktober 2018 – 02:10 WIB

Pernah Jaya di Jaman Belanda, Wayang Timplong Terancam Punah

Senin, 06 Agustus 2018 – 07:05 WIB
Pernah Jaya di Jaman Belanda, Wayang Timplong Terancam Punah - JPNN.COM

jpnn.com, NGANJUK - Wayang Timplong mungkin terdengar asing bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan, namun kalau ditanya pada warga Nganjuk, hampir semua tahu. Pencetusnya adalah Mbah Boncel asal Dusun Kedungbajul, Kecamatan Pare di tahun 1800an. Secara turun temurun dia wariskan kemampuannya pada keluarga dan kerabat. Kini wayang bersejarah itu terancam punah.

--- 

SUYADI begitu cekatan memainkan wayang timplong di tangan. Diiringi sebuah gamelan, dalang 52 tahun itu mengisahkan cerita Bujangganong, seorang pemuda keturunan Kerajaan Pajajaran yang ingin melamar putri Kerajaan Majapahit. Kisahnya sangat runtut dari pukul 14.00 sampai 15.30.

Di sebuah punden (tempat yang dikeramatkan) di Dusun Bongkal, Desa Kepanjen, Kecamatan Pace, Suyadi bersama paguyubannya menggelar pertunjukan wayang timplong. Penontonnya memang tidak banyak. Hanya puluhan orang yang mayoritas warga setempat.

Dalam sejarahnya, pertunjukan wayang timplong bertepatan dengan acara nyadran (bersih desa). Karena itu, penontonnya rata-rata adalah warga setempat. ''Hari ini (Jumat, 3/8) ada nyadran,'' kata pria asli Dusun Bongkal tersebut.

Wayang timplong dikenalkan Mbah Boncel. Pria asal Dusun Kedungbajul, Desa Gemenggeng, itu memang dikenal sebagai dalang yang kreatif. Lewat kreativitasnya, Boncel membuat pertunjukan wayang timplong pada 1800-an. ''Mbah Boncel buat sendiri wayangnya,'' kenangnya.

Setiap ada bersih desa, warga sering menanggap Mbah Boncel sebagai dalang wayang timplong. Berbeda dengan wayang kulit, wayang timplong banyak bercerita tentang sejarah, legenda, asal usul, dan kisah-kisah panji. ''Saat itu banyak warga yang senang dengan cerita-cerita tersebut,'' kata Suyadi.

Setelah masa Mbah Boncel, pertunjukan wayang timplong mengalami pasang surut. Puncak kejayaan berada di era Mbah Tawar pada 1940-an. Saat itu, menurut Suyadi, wayang timplong banyak digemari masyarakat desa.

Kasi Sejarah, Seni, Tradisi, dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Nganjuk Amin Fuadi menyatakan, pementasan wayang timplong pada masa itu digelar untuk kegiatan-kegiatan ritual di desa. Misalnya, buka bumi (awal musim tanam), wiwit (musim panen), bersih desa, dan suran (tahun baru Islam).

''Itu masa jaya wayang timplong,'' kata Amin.

Bahkan, wayang timplong pernah ditanggap pemerintahan kolonial Belanda. Waktu itu bertepatan dengan buka giling Pabrik Gula Jatirejo, Kecamatan Loceret. ''Setiap buka giling, pasti ada pertunjukan wayang timplong,'' ujarnya.

Memasuki 2000, pertunjukan wayang timplong makin sepi. Penyebabnya bukan semata kehilangan penggemar, tapi juga mandeknya regenerasi dalang wayang timplong.

Setelah era Mbah Boncel, dalang diteruskan Mbah Sariguno. Kemudian, turun lagi ke Mbah Cewul, Mbah Tawar, dan Mbah Talam. Setelah era Mbah Talam, generasi dalang menyusut. ''Saya termasuk yang meneruskan,'' terang Suyadi yang merupakan putra Mbah Talam.

Dia menyadari wayang timplong harus dilestarikan. Bukan hanya seorang dalang yang perlu mengalami regenerasi. Tetapi, pemain gamelan dan sinden pun demikian. Karena itu, agar tetap lestari, dia membentuk paguyuban wayang timplong di Dusun Bongkal.

Diharapkan, wayang timplong masih bisa dinikmati generasi muda. Untuk itu, setiap tahun Suyadi selalu menggelar pementasan saat ada kegiatan bersih desa. ''Beberapa desa lain masih mengundang wayang timplong,'' ungkapnya.

Untuk meneruskan kemampuannya sebagai dalang, Suyadi mengaku sudah menyiapkan Roni Siswanto, 20, sang putra, sebagai penggantinya.

SHARES
TAGS   wayang
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar