JPNN.com

Politikus Demokrat Muhammad Nasir Diminta Perbaiki Pola Komunikasinya

Jumat, 31 Juli 2020 – 02:25 WIB
Politikus Demokrat Muhammad Nasir Diminta Perbaiki Pola Komunikasinya - JPNN.com
Anggota DPR RI, Hamdhani Periode 2014-2019 (kanan). Foto: Dok. Humas DPR

jpnn.com, JAKARTA - Anggota DPR RI asal Kalimantan Tengah Periode 2014-2019, Hamdhani meminta anggota Fraksi Demokrat DPR RI Muhammad Nasir memperbaiki pola komunikasinya.

Menurut mantan anggota Komisi VI DPR itu, sebagai anggota Dewan tidak sepantasnya Nasir berbicara kasar dengan mitra kerja, apalagi itu dalam forum resmi yang bisa disaksikan publik. Anggota Dewan tidak boleh kehilangan kesantunan, dan kesopanannya.

“Boleh, bahkan harus bersikap kritis, tetapi bahasa yang digunakan harus tetap santun, sopan. Jangan menghujat. Tidak boleh kasar, apalagi sampai sumpah serapah dalam menyampaikan pandangan dalam forum resmi pula,” kata Hamdhani dalam keterangannya, kemarin (30/7/2020).

Hamdhani menjelaskan sikap Muhammad Nasir dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII DPR RI bersama Holding Pertambangan BUMN, Selasa (30/6/2020). Dalam rapat itu, politikus Partai Demokrat tersebut terlibat perdebatan panas dengan Direktur Utama PT Inalum (Persero) atau MIND ID, Orias Petrus Moedak.

Sejak awal Nasir kerap menginterupsi ketika Orias Petrus Moedak menjawab pertanyaan anggota DPR lain.

Makin panas ketika Orias Petrus Moedak menjelaskan mengenai refinancing terkait utang Inalum sebagai salah satu strategi pendanaan setelah mengambilalih PT Freeport Indonesia. Refinancing ditempuh dengan menerbitkan obligasi global US$2,5 miliar atau setara Rp37,5 triliun dengan kurs Rp15 ribu. Buntutnya, Nasir meminta Orias keluar ruangan.

Hamdhani mengingatkan, sikap anggota DPR dari Fraksi Demokrat Muhammad Nasir itu, tidak etis. Bahkan membuat citra lembaga parlemen tercoreng. Apalagi, politikus Partai NasDem ini melihat, kemarahan Nasir cenderung  berlebihan, terutama jika melihat substansi persoalan yang tengah dibahas dalam rapat di Komisi VII DPR itu.

Dengan model komunikasi ala Nasir ini, kata eks anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen DPR itu, bisa membuat citra lembaga parlemen tercoreng. Kalau anggota Dewan yang terhormat tidak bisa menghormati tamunya, yang notabene juga bukan orang bisa, tentu repot.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
fri