Potensi Tenun Ikat di NTT Rp 4,6 M Per Bulan

Potensi Tenun Ikat di NTT Rp 4,6 M Per Bulan
ILUSTRASI. FOTO: Blogspot @Kain Tenun Sumba

Dalam perjalanannya, Dekranasda banyak mendapat kendala, baik dari sisi pemasaran, bahan baku, kualitas benang, permodalan, persaingan produksi, teknologi, regenerasi, maupun sikap kewirausahaan yang belum sepenuhnya dimiliki oleh perajin. Tetapi Dekranasda saat ini berupaya terus bekerja sama dengan kelompok atau koperasi dalam mengatasi kebutuhan benang, bahan pewarna alam dan pewarna sintesis.

“Kita juga berusaha meningkatkan kemampuan perajin untuk memroduksi tenun yang berkualitas baik. Meningkatkan akses pemasaran melalui promosi efektif, pameran di tingkat kabupaten, provinsi dan nasional bahkan internasional. Rencananya ada event NTT sejuta tenun di tahun 2017 nanti," sambung Lucia.

Upaya lainnya adalah regenerasi penenun melalui lembaga pendidikan formal dan non formal melalui sekolah dan kursus-kursus pertenunan bagi anak-anak di pedesaan yang putus sekolah. Juga dengan dibukanya Program Studi Tenun Ikat setara D3 (Diploma III).

Mendorong kalangan masyarakat untuk mencintai tenun dan menggunakannya di berbagai kebutuhan berbusana. "Bayangkan saja, berapa banyak pengrajin yang bisa dibantu kalau semua pegawai, masyarakat, anak sekolah di NTT menggunakan tenun NTT," ungkap Lucia yang baru kembali dari Belanda awal Juni lalu sebagai narasumber dalam seminar tenun ikat internasional di Leiden, Belanda.

Ditambahkan, yang tidak kalah penting adalah melindungi motif-motif tenun NTT dengan upaya memperoleh HKI dan menjaga kualitas tenun produk perajin NTT.

"Kiranya dengan dukungan dari berbagai pihak, tentunya dengan potensi yang ada, Dekranasda dapat menjawab tantangan  dalam meningkatkan ekonomi rumah tangga para perajin tenun ikat khas NTT," tutup dia.(carlens bising/oranis herman/fri/jpnn)



Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News