Propaganda KKB di Papua Dinilai Untuk Menarik Simpati Internasional

Propaganda KKB di Papua Dinilai Untuk Menarik Simpati Internasional
Ketua DPD Pemuda Mandala Trikora Provinsi Papua Ali Kabiay. Foto: Blogspot

jpnn.com, JAKARTA - Berbagai masalah keamanan dan gangguan terhadap warga sipil yang terjadi di Papua belakangan ini diduga adalah lanjutan dari upaya adu domba atau propaganda dari sekelompok organisasi kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang ingin memisahkan Papua dari NKRI.

Ketua DPD Pemuda Mandala Trikora Provinsi Papua Ali Kabiay mengatakan KKB sering melakukan tindakan tak terpuji dengan cara melakukan penembakan terhadap TNI dan Polri bahkan juga kepada warga sipil tak bersenjata.

“Seperti tragedi penembakan yang menimpa seorang pendeta bernama Yeremia Zanambani di Kampung Bilogai, Distrik Hitapida, Intan Jaya. Hal ini tentu membuat masyarakat menjadi bingung dan mengganggu opini publik," katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (30/9)

Menurut Ali Kabiay, KKB melakukan berbagai aksi proganda tersebut bertujuan untuk menarik perhatian internasional sehingga agenda Papua masuk dalam sidang umum PBB yang dilaksanakan tanggal 22-29 September 2020.

"Caranya dengan propaganda pembunuhan, membunuh warga sipil lalu menuduh aparat keamanan sebagai pelaku utamanya, hal ini bertujuan untuk menarik simpatik publik dan masyarakat Internasional," katanya.

"Pola-pola seperti ini adalah pola yang sering digunakan kelompok teroris di seluruh dunia seperti misalnya kelompok teroris Boko Haram di Negeria.

Tujuan kedua menurut Ali Kabiay adalah untuk menarik kembali dukungan negara-negara pasifik terhadap perjuangan mereka memisahkan Papua dari Indonesia yang sempat meredup.

"Apalagi sekarang ini sedang terjadi pandemi Covid-19 secara global sehingga membuat perhatian kawasan pasifik terhadap isu Papua tidak terlalu menonjol,"

Ketua DPD Pemuda Mandala Trikora Provinsi Papua Ali Kabiay mengatakan KKB sering melakukan tindakan tak terpuji dengan cara melakukan penembakan terhadap TNI dan Polri bahkan juga kepada warga sipil tak bersenjata.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News