Rabu, 21 November 2018 – 02:53 WIB

Rencana Virgin Australia Prioritaskan Veteran Dicap Pencitraan

Senin, 05 November 2018 – 18:00 WIB
Rencana Virgin Australia Prioritaskan Veteran Dicap Pencitraan - JPNN.COM

Virgin Australia akan memikirkan kembali janji untuk memberikan para veteran prioritas naik pesawat atau 'boarding', setelah rencana itu digambarkan sebagai hal yang "memalukan" dan "bersifat pencitraan".

Poin kunci:

• Asosiasi Pertahanan Australia menggambarkan tindakan Virgin sebagai "pencitraan"
• Qantas mengatakan tidak akan mengikuti langkah itu
• Layanan Veteran Australia (RSL) mengatakan maskapai penerbangan seharusnya malah memberikan potongan harga untuk para veteran

Maskapai ini berjanji untuk membuat veteran perang naik pesawat terlebih dahulu sebelum penumpang reguler dan menghargai jasa mereka dalam sebuah pengumuman selama penerbangan.

Kebijakan, yang mengingatkan kita pada maskapai penerbangan AS, itu muncul setelah pengumuman Pemerintah Australia minggu lalu tentang kartu diskon dan lencana untuk para veteran yang kembali dari perang serta penambahan dana setengah miliar dolar (atau setara Rp 5 triliun) untuk museum Australian War Memorial di Canberra.

Tapi hal itu mengundang kecaman dari beberapa veteran dan Asosiasi Pertahanan Australia.

Dalam serangkaian postingan Twitter pada Senin (5/11/2018) sore, Virgin Australia mengumumkan rencana untuk meninjau kebijakan tersebut.

"Kami akan berkonsultasi dengan kelompok-kelompok masyarakat dan anggota tim kami sendiri yang telah bertugas di pertahanan untuk menentukan jalan terbaik ke depan," bunyi tweet tersebut.

"Jika proses ini menentukan bahwa pengakuan publik atas layanan mereka melalui prioritas naik pesawat atau pengumuman apapun itu tidak sesuai, maka kami tentu akan menghormati hal tersebut."

Langkah itu mendapat tanggapan hangat dari beberapa veteran dan politisi, sementara maskapai saingan Virgin, yakni Qantas, menyatakan tidak akan mengikutinya.

Neil James, kepala Asosiasi Pertahanan Australia, menyebut langkah itu "pencitraan" dan menggambarkannya sebagai manifestasi budaya Amerika yang tidak mungkin diterjemahkan dengan baik di Australia.

"Masalah pertamanya adalah ada bentuk layanan lain untuk masyarakat ... seperti polisi dan ambulans, dan apakah Anda benar-benar memulai antrean pengumuman semacam itu? Itu benar-benar mengkhawatirkan," katanya.

Seorang senator Partai One Nation Australia, Pauline Hanson, mengatakan, menurutnya para veteran yang bekerja dengannya akan berpikir pengumuman itu "sangat memalukan".

"Anda sekarang punya veteran muda di usia awal 20-an," ujarnya.

"Kita memperhatikan yang tua dan orang-orang yang lemah dengan menempatkan mereka di pesawat terlebih dahulu. Saya pikir ini adalah taktik pemasaran oleh Virgin. Tapi saya pikir para veteran yang saya kenal, saya pikir mereka akan bangga dan berkata 'tidak'."

Sulit mengistimewakan veteran

Qantas mengatakan maskapainya menerbangkan"orang-orang luar biasa setiap hari", dan memilih kelompok tertentu sebagai bagian dari prioritas boarding akan sulit dilakukan.

"Kami sangat menghormati personil Angkatan Pertahanan yang sedang bertugas dan para veteran, dan kami menghormati jasa mereka dalam beberapa cara sepanjang tahun, termasuk pengumuman khusus pada Hari Anzac dan Hari Peringatan, dan melalui kemitraan kami dengan museum Australian War Memorial," kata seorang juru bicara .

"Kami sadar bahwa kami menerbangkan banyak orang luar biasa setiap harinya, termasuk veteran, polisi, paramedis, perawat, petugas pemadam kebakaran, dan lain-lain, jadi kami merasa sulit untuk memilih satu kelompok tertentu sebagai bagian dari proses boarding."

Presiden RSL cabang Wilayah Ibukota Australia (ACT) sekaligus ketua sementara di tingkat nasional, John King, mengatakan akan tergantung pada individu veteran jika mereka ingin mengambil keuntungan dari tawaran seperti itu, tetapi mengatakan maskapai penerbangan bisa memberikan potongan harga.

"Saya pikir jika sebuah bisnis ingin menghormati seorang veteran [dengan prioritas naik pesawat], seperti yang mereka lakukan pada warga senior dan orang-orang yang bepergian dengan anak-anak, jika veteran menerima dan mengambil keuntungan dari hal itu, ya bagus," katanya.

"Setiap orang yang mempertaruhkan hidup mereka untuk kepentingan komunitas perlu diakui, dan saya kira ini adalah salah satu cara untuk melakukannya."

"[Tapi] jika [maskapai] benar-benar ingin serius, mereka bisa memberikan diskon untuk orang yang bekerja di area ini."

Juru bicara RSL Tasmania, Terry Roe, mengatakan, prioritas naik pesawat akan menguntungkan veteran yang lebih tua.

"Ada lebih dari 300.000 veteran dan sebagian besar berusia lanjut, di usia 70-an dan 80-an," katanya.

"Jadi inisiatif ini mungkin akan bermanfaat bagi beberapa dari mereka, terutama mereka yang tidak terlalu sering bepergian."

Ide yang bagus atau ikut-ikutan AS?

Sebelumnya, CEO Virgin Australia, John Borghetti, mengatakan bahwa: "Kami mengakui kontribusi penting yang telah dilakukan para veteran untuk menjaga keamanan negara kami dan peran yang mereka mainkan di komunitas kami."

"Setelah veteran membawa kartu dan lencana mereka, mereka hanya perlu menunjukkannya selama proses boarding untuk diberikan prioritas naik dan diumumkan selama penerbangan," katanya.

Menteri Industri Pertahanan Australia, Steve Ciobo, mengatakan bahwa "akan sangat hebat" jika Qantas mengikuti teladan Virgin.

"Saya pikir luar biasa jika mereka bergabung dan jika mereka menghormati dan menghargai jasa mereka yang telah berjuang untuk bangsa kita, menempatkan diri mereka dalam bahaya," katanya.

Darren Chester suggests veterans would rather be discreet on flights Video: Darren Chester suggests veterans would rather be discreet on flights (ABC News)

Namun Menteri Urusan Veteran Australia, Darren Chester, menyampaikan peringatan, seraya menyebut Pemerintah akan berkonsultasi dengan kelompok veteran dan maskapai penerbangan, dan membenarkan komentar bahwa para veteran lebih menyukai diskon tiket pesawat.

"Orang Australia, pada dasarnya, cenderung menyembunyikan prestasi mereka, jadi saya pikir beberapa veteran akan senang naik ke pesawat tanpa ada yang tahu bahwa mereka ada di sana," katanya.

Sentimen itu didukung oleh beberapa veteran. Catherine McGregor, mantan perwira militer transgender tertinggi di Australia, menepis langkah Virgin sebagai "meniru Amerika".

"Saya tidak akan bermimpi naik pesawat terbang sebelum penumpang lain sebagai veteran," unggahnya di Twitter.

"Saya tidak bisa membayangkan terlalu banyak orang yang saya perjuangkan dengan melakukan hal ini. Habiskan lebih banyak untuk pencegahan bunuh diri dan dukungan kesehatan."

Peneliti tamu di Institut Lowy dan mantan perwira Angkatan Darat Australia, Rodger Shanahan, sebelumnya mengatakan ia khawatir Australia berada dalam bahaya "mengelu-elukan veteran".

"Bagaimana dengan polisi dan layanan darurat yang harus mengatasi kecelakaan mobil, atau mengeluarkan korban dari sungai? Atau paramedis yang menyaksikan banyak overdosis, upaya bunuh diri dan peristiwa traumatik terkait? Atau staf di ruang gawat darurat di rumah sakit yang harus membuat keputusan menyelamatkan jiwa setiap hari?" tulisnya dalam sebuah opini untuk ABC minggu lalu.

"Tambahkan lagi pekerja untuk lansia dan pekerja disabilitas, atau guru kebutuhan khusus yang harus bekerja tanpa lelah setiap hari, dan gagasan masyarakat berterima kasih kepada militer atau mantan militer atas jasa mereka membuat saya sangat gelisah."

Pensiunan Mayor Jenderal dan Senator Partai Liberal Australia, Jim Molan, menggambarkan reaksi terhadap langkah Virgin sebagai "ketidaksukaan".

"Kita lihat di lapangan, lakukan pembicaraan dengan para veteran, lihat apa yang dipikirkan para veteran, dan kemudian kita mungkin mengambil manfaatnya, atau berterima kasih kepada Virgin dan berkata 'tidak, belum pantas sekarang ini'," katanya.

"Biarkan konsultasi itu terjadi."

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

 
SHARES
Komentar