Rabu, 20 Februari 2019 – 20:21 WIB

Rumitnya Kasus 5 Anak Memperkosa 2 Korban yang Juga Anak-Anak

Rabu, 02 Februari 2011 – 08:08 WIB
Rumitnya Kasus 5 Anak Memperkosa 2 Korban yang Juga Anak-Anak - JPNN.COM

Ada kasus yang tergolong langka di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Yakni, lima bocah laki-laki yang masih bau kencur (11 tahun ke bawah) memperkosa dua bocah perempuan yang umurnya 5 tahun dan 7 tahun. Hingga kemarin, kasus itu masih membuat bingung polisi.

==============================
  AMARULLA H N.- PURBALINGGA
==============================
 
MALAM itu, Bunga sedang menyaksikan televisi bersama ibunya. Ketika di televisi sedang ada adegan berciuman, Bunga, bocah berumur 5 tahun itu dengan polosnya nyeletuk di depan ibunya, "Aku pernah dicium seperti itu."

Pengakuan polos tersebut membuat sang ibu tersentak. Didorong oleh rasa penasaran, dia lantas mencecar buah hatinya itu dengan beberapa pertanyaan seputar pengakuannya yang pernah dicium itu. Dari situlah, sang ibu yakin bahwa anaknya telah diperkosa setelah alat kelamin sang bocah dilihat.
   
Pengakuan Bunga ternyata disusul dengan pengakuan Mawar, bocah yang umurnya masih 7 tahun. Kepada orang tuanya, Mawar juga mengaku telah diperlakukan tak senonoh seperti halnya yang dialami Bunga. Rumah Bunga dan Mawar bersebelahan di Desa Kebutuh, Kecamatan Bukateja, Purbalingga.

Setelah dikorek lebih dalam, dari pengakuan Bunga dan Mawar, diperoleh lima nama sebagai pelaku. Dan ternyata, kelima pelaku tersebut masih bau kencur. Mereka adalah Im (11), In (9), Er (9), Jef (8) dan Ar (8). Mereka sekolah di SD yang sama, dan  juga tetangga satu RT dengan Bunga dan Mawar.

Pengakuan Bunga dan Mawar itu membuat orang tua mereka muntab. Apalagi, diketahui bahwa para pelaku adalah tetangga satu RT. Saat itulah, kehebohan terjadi di RT tersebut hingga mengundang respon para aparat desa untuk turun tangan. Maka, pada hari itu, 19 Januari, dilakukan lah rapat desa yang dipimpin oleh kepala desa. Di forum itu, selain ada para tokoh masyarakat, juga dihadiri para orang tua korban dan pelaku.

"Rapat itu tak menghasilkan kesepakatan damai. Pihak keluarga korban tetap menuntut agar kasus tersebut dibawa ke jalur hukum. Mereka merasa harga diri keluarga diinjak-injak," kata Bambang S., Kepala Urusan (Kaur) Pembangunan Desa Kebutuh kepada Radar Banyumas (Grup JPNN).

Maka, hari itu pula, pihak keluarga korban melapor ke polsek setempat. Tapi karena di kantor polisi setingkat kecamatan itu tak ada unit yang sesuai untuk menangani (karena pelaku dan korban masih anak-anak), maka kasus tersebut dilaporkan ke Polres Purbalingga.

Kapolres Purbalingga AKBP Roy Hardi Siahaan melalui Kasatreskrim AKP Senentyo menjelaskan, dari  keterangan korban kepada polisi di ruang pemeriksaan anak Polres Purbalingga pada Kamis pekan lalu (20/1), korban mengaku pernah dijilat alat kelaminnya. "Dari hasil visum di Bukateja, terdapat hasil jika selaput dara kedua korban sudah pecah dan  pernah dimasuki benda tumpul," kata Senentyo.

Namun karena korban masih sangat belia, lanjut dia, dalam meminta keterangan harus benar-benar sabar.  Dari informasi yang dihimpun Radar Banyumas berdasarkan pengakuan para korban di depan petugas kepolisian, diperoleh kronologis singkat peristiwa menrenyuhkan itu.

Peristiwa pertama dialami Bunga pada 28 Desember 2010. Saat itu, Bunga mendatangi rumah Im untuk mencari adiknya Im. Tapi saat itu, adiknya Im tidak ada. Im pun bertanya kepada Bunga, ada keperluan apa mencari adiknya. Bunga mengatakan, dia ingin membuat kapal-kapalan dari kertas.

Saat itu, Im berjanji akan membuatkan Bunga kapal-kapalan, tapi dengan syarat, Bunga harus mau diajak kawin-kawinan. Karena iming-iming itu, Bunga pun manut. Bocah yang masih duduk di bangku TK itu pun mau ketika diseret Im ke WC. Di tempat itulah, Bunga diciumi, kemudian dilepas bajunya. Im pun melepas celananya. Pengakuan yang diperoleh dari Bunga, hari itu, Im sampai memasukkan "alat"-nya dua kali ke kelamin Bunga.

Ternyata, peristiwa yang dialami Bunga bukan kali itu saja. Pada 16 Januari lalu, Bunga kembali digarap. Kali ini, oleh In dan Jef. Ceritanya, hari itu, Bunga sedang bermain ke rumah In. Saat itulah, Jef membujuk Bunga agar mau diajak masuk ke kamar.

Di dalam kamar itulah, Jef memasukkan alat vitalnya hingga dua kali ke kelamin Bunga. Tak cukup hanya itu, In yang tahu Jef sedang berduaan dengan Bunga, langsung ikut masuk ke kamar. In pun ikut-ikutan. Kali ini, dia tak sampai memasukkan alat vitalnya. Sebab, saat akan melancarkan aksi tak senonohnya, ayah Bunga memanggil.

Peristiwa yang dialami Mawar terjadi pada 17 Januari. Saat itu, Jef, Ar dan Er berniat akan buang air kecil di kamar mandi umum di desa tersebut. Kebetulan, di kamar mandi itu sedang ada Mawar yang sedang mandi. Tiga bocah itu pun mengintipnya.

Tak lama berselang, Jef masuk mendekati Mawar, dan langsung mengajaknya bersetubuh. Masya Allah, Jef berusaha melakukannya dengan berdiri. Setelah itu, Jef memaksa Er dan Ar agar ikut mengerjai Mawar. Maka, dua bocah itu pun ikut-ikutan mengerjai Mawar dengan berdiri.

Setelah puas dengan berdiri, Jef kembali mengajak Mawar "melakukan" sambil tidur. Selanjutnya, Er dan Ar juga melakukan dengan tiduran.  "Saat peristiwa itu terjadi, kondisi di kamar mandi umum sedang sepi. Kami menduga, korban menurut saja karena dibujuk disertai ancaman," kata seorang petugas di kepolisian.

Kapolres Purbalingga, AKBP Roy Hardi Siahaan mengatakan, kasus yang ditangani itu termasuk unik dan langka. "Biasanya (pelaku perkosaan itu) orang dewasa ke anak- anak.  Tapi kasus ini oleh anak-anak terhadap anak-anak. Mungkin di Indonesia baru terjadi di sini," katanya.

Roy menambahkan, para pelaku yang bersekolah di satu SD itu diduga kuat sering terpengaruh beberapa gambar dan  tayangan video porno dari orang dewasa yang memang kenal mereka. Salah satu tersangka bahkan mengaku jika orang dewasa yang memamerkan tayangan porno itu mengatakan jika bersetubuh itu (Kawin) sangat enak.

"Di sinilah peran orangtua dalam pengawasan anak mereka. Termasuk dalam lingkungan di luar sekolah. Apalagi pengaruh tayangan yang tidak pantas ditonton bisa dengan mudah  didapatkan anak-anak," tandasnya.

Dia menambahkan, pihaknya akan tetap memproses kasus tersebut secara hukum. Tapi, para pelaku tidak ditahan karena usia mereka yang masih anak-anak. Seminggu sekali, kelima bocah itu harus menjalani wajib lapor, setiap Kamis didampingi orang tuanya masing-masing.

Dijelaskan Kapolres, para pelaku perkosaan yang masih anak-anak itu bisa dijerat dengan pasal 81 ayat 2 UU RI  Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan pasal 281 huruf ke 2e KUHP." "Karena anak-anak, sebenarnya kita tak tega untuk menghukum mereka," kata salah seorang petugas di Polres Purbalingga.

Kapolres menambahkan, Kepolisian juga akan berkordinasi dengan lembaga perlindungan perempuan dan anak. Kemungkinan juga ada pendampingan psikolog dan lainnya. Kasus ini juga menarik perhatian Tim Harapan (Hapus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak) yang diketuai oleh isteri Bupati Purbalingga, Ny Sudarli Heru Sudjatmoko. 

Kasus ini, memang membuat bingung polisi. Di satu sisi, para pelaku bersalah dan sudah mengakui segala perbuatannya. Namun pada sisi lainnya, ada undang- undang perlindungan anak. Karena itu, kasus ini, hingga kemarin masih dalam proses penanganan oleh Polres Purbalingga.

Ayah Bunga, Trs (34) mengaku sangat terpukul atas kejadian tersebut. Dirinya berpikir ke depan, bagaimana nasib dan masa depan putri kesayangannya itu. "Saya hanya menginginkan ada penanganan pasti dari pihak manapun yang terkait agar bisa merehabilitasi dan membuat jera pelaku. Jika asal kembali dan dibina di keluarga, siapa yang bertanggungjawab penuh, siapa yang menjamin tak ada lagi kejadian yang sama," ungkap bapak dua anak itu dengan raut muka sedih.

Pernyataan keras itu dia lontarkan, karena dia merasa gemas. Sebab, para pelaku tersebut masih berada di rumahnya masing-masing. Bahkan, kelima pelaku itu masih bisa bersekolah seperti biasa, dan seperti tidak ada apa-apa.

"Kami khawatir, ada korban lain yang menyusul. Karena itu, mereka (lima anak itu) harus direhabilitasi  di tempat lain," katanya menuntut.

Yusi Asih Utami, Wakil Sekretaris Tim Harapan (Hapus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak) Kabupaten Purbalingga, menilai perbuatan serupa bisa cepat menular jika tak ditangani optimal. Pihaknya sedang mengupayakan langkah pendampingan.

Bekerjasama dengan salah satu tempat rehabilitasi di Banyumas, saat ini sedang dalam proses. "Kami juga ikut khawatir jika dikembalikan dalam waktu dekat ini ke lingkungan, bisa "menular" ke anak lainnya. Karena perbuatan itu meniru dan sangat mudah dilakukan anak sebaya mereka," paparnya.(jpnn/kum)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar