Salat Diskon

Oleh: Dahlan Iskan

Salat Diskon
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - HATI selalu ingin salat di dalam Masjid Al Haram. Kenyataan sering menempatkan saya salat di tengah jalan raya. Di atas aspal. Jauh di luar masjid.

Jumlah manusia menuju masjid memang tak terkirakan. Dari segala arah. Kalau azan sudah dikumandangkan belum sampai di masjid pun harus berhenti.

Salat Diskon

Baca Juga:

Di situlah salat. Di trotoar. Di emperan hotel. Di koridor mal. Dan di tengah jalan raya.

Komandonya tetap satu: dari imam yang ada nun di dalam masjid.

Tidak jarang di depan saya sederet orang salat di atas aspal tanpa sajadah. Mereka tidak melepas sepatu. Atau sandal.

Baca Juga:

Kamis lalu empat anak muda salat di depan saya seperti itu: dengan tetap bersepatu kets.

Perhatian saya pun terpecah ke sepatu itu: bagaimana nanti mereka bisa melakukan gerakan simpuh terakhir. Apakah bisa bersimpuh (tahiat) akhir dengan pakai sepatu.

Bajuri tidak tahu mengapa salat tarawih didiskon 50 persen. Di Saudi sulit mendapat penjelasan seperti itu. Kalau majelis ulama sudah memutuskan, jadilah.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News