Senjata Kimia Assad Bunuh Puluhan Balita di Douma

Senjata Kimia Assad Bunuh Puluhan Balita di Douma
Potongan video anak-anak yang diklaim sebagai korban serangan senjata kimia oleh rezim Bashar al Assad. Foto: AP

jpnn.com, DAMASKUS - Puluhan balita malang itu tergolek lemah. Sebagian lainnya bahkan sudah tak bernyawa. Mereka adalah korban serangan senjata kimia rezim Bashar al Assad di Douma, Eastern Ghouta, Syria, Sabtu malam (7/4).

Sebelumnya, helikopter milik militer Syria dikabarkan menjatuhkan bom-bom barel berisi senjata kimia yang ditengarai sebagai gas sarin atau klorin. Sejauh ini korban jiwa mencapai 70 orang. Mayoritas perempuan dan anak-anak.

”Kami harus membantu lebih dari seribu kasus orang kesulitan napas setelah bom barel dijatuhkan di kota (Douma). Korban jiwa mungkin bertambah,” ujar Moayed al-Dayrani, warga Douma sekaligus relawan medis, seperti dilansir Al Jazeera.

Kelompok Syrian Civil Defence alias White Helmets mengungkapkan, ada satu keluarga yang tewas di ruang bahwa tanah rumah mereka.

Gas dari bom yang dijatuhkan merambat memasuki ruang perlindungan. Mereka tidak berani lari keluar karena pasukan Syria juga menembak dari berbagai penjuru. Ruang perlindungan itu pun menjadi kuburan masal.

Kepala White Helmets Raed al Saleh mengatakan, empat anggota White Helmets yang dikerahkan ke lokasi terpaksa kembali karena mengalami sesak napas akut. Mereka akhirnya ikut dirawat sebagai korban.

Douma Media Center maupun White Helmets mengunggah foto-foto dan video korban serangan senjata kimia tersebut. Tampak anak-anak meninggal dengan mulut berbusa, tanda-tanda tewas akibat gas beracun.

Meski begitu, pemerintah Syria dan sekutunya, Rusia, menampik semua tudingan. Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut bahwa serangan senjata kimia itu hanyalah cerita palsu yang diulang-ulang.

Puluhan balita malang itu tergolek lemah. Sebagian lainnya bahkan sudah tak bernyawa. Mereka adalah korban serangan senjata kimia rezim Bashar al Assad di Douma

Sumber Jawa Pos

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News