Si Cantik Jago Tembak Ini Nyaris Gagal Berangkat ke Brasil

Si Cantik Jago Tembak Ini Nyaris Gagal Berangkat ke Brasil
Ray Bassil. Foto: pinterest.com

Kalau saja Bassil lahir di Amerika Serikat mungkin lain ceritanya. Negara Paman Sam itu pasti memberikan atensi yang lebih layak. Komite Olimpiade AS mengucurkan dana sebesar USD 73 juta (Rp 963,42 miliar) untuk pembiayaan atletnya. Plus dana program latihan buat atletnya dengan total USD 81 (Rp 1,06 triliun) per tahun. 

”Untungnya keluarga besar saya cukup membantu pendanaan saya selama ini. Saya beruntung memiliki keluarga yang sangat mendukung karir,” tutur peraih medali perak kejuaraan menembak Asia 2015 di nomor trap putri itu.

Nah, Bassil mengatakan kegemarannya menembak datang ketika usianya memasuki 14 tahun. Sang ayah, Jack Bassil, adalah seorang penembak profesional yang kemudian mencekoki dan mengajari anaknya buat menembak.

Jack berlaku sebagai mentor buat Ray. Setiap hari Jack menunggu latihan anaknya yang berlangsung antara empat hingga enam jam. 

Jack merasa anaknya harus ditunggui dalam berlatih setiap harinya. Bukan karena takut anaknya akan lalai atau mangkir dari latihan. Melainkan karena tiba-tiba latihan Bassil distop oleh orang tak dikenal. 

Lebanon yang mengalami pergolakan dan perang hingga dekade 1990-an memang belum ramah kepada perempuan. Kesetaraan gender di Lebanon masih sulit diwujudkan. 

Dan kisah Bassil yang tiba-tiba latihannya dihentikan oleh seorang pria karena merasa tak seharusnya perempuan punya kemampuan menembak sering terjadi. 

”Ketika saya berada di gym untuk berlatih beban pun masih sering menemui pandangan yang aneh dari kaum lelaki. Namun, saya menganggapnya ini bagian dari kisah menuju sukses,” ucapnya. 

LIBANON berharap atlet putri Ray Bassil meraih medali Libanon pada Olimpiade 2016 Rio de Janeiro. Suka tak suka inilah salah satu wujud 'tamparan'

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News