Sstt.. Ada yang Sebut Pembakar Fasilitas Umum Bukan dari Mahasiswa atau Buruh

Sstt.. Ada yang Sebut Pembakar Fasilitas Umum Bukan dari Mahasiswa atau Buruh
Halte Transjakarta Bundaran HI terbakar saat ada aksi demo menolak UU Cipta Kerja di kawasan Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Kamis (8/10/2020). Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/aww

jpnn.com, JAKARTA - Analis intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta menilai pelaku pembakaran terhadap fasilitas umum bukan berasa dari mahasiswa atau buruh yang memperjuangkan atau menentang Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja.

Menurut Stanislaus, ada penyusup yang melakukan tindakan kekerasan dan brutal membuat aksi unjuk rasa menjadi tidak simpatik dan justru merugikan masyarakat.

Adanya kelompok penyusup yang mencederai aksi buruh dan mahasiswa tersebut berujung pada rusaknya fasilitas umum dan bentrokan fisik antara peserta unjuk rasa dengan aparat keamanan.

"Tidak ada masalah dengan demo yang dilakukan mahasiswa dan buruh di berbagai kota di Indonesia, hal tersebut dijamin konstitusi. Namun, adanya penyusup yang memprovokasi dan melakukan perusakan fasilitas umum serta perlawanan terhadap aparat membuat situasi menjadi ricuh," ujar Stanislaus saat dihubungi, Jumat (9/10).

Stanislaus menambahkan, aksi perusakan seperti pembakaran halte busway di Jakarta, perusakan kendaraan polisi termasuk ambulans, menunjukkan para pelaku mempunyai tujuan lain, bukan menuntuk UU Cipta Kerja.

Hal tersebut membuat kerugian yang cukup besar terutama terhadap masyarakat yang sehari-hari menggunakan fasilitas umum.

"Pemerintah dalam hal ini aparat keamanan harus bertindak tegas dan melakukan proses hukum terhadap pelaku perusakan dan kekerasan dalam unjuk rasa menolah UU Cipta Kerja tersebut. Jangan biarkan negara ini menjadi arena bagi kelompok-kelompok yang menunggangi isu populis demi kepentingannya," tegas Stanislaus.

Selain itu, Stanislaus juga memberikan apresiasi kepada masyarakat Yogyakarta, yang pada Kamis (8/10), langsung melakukan gotong royong membersihkan dan memperbaiki Malioboro setelah dirusak oleh massa pelaku unjuk rasa.

"Hal tersebut membuktikan bahwa masyarakat Yogyakarta tidak mendukung aksi kekerasan dalam unjuk rasa tersebut. Masyarakat Jogja dengan budayanya yang luhur pasti menolak cara-cara tersebut, dan mereka melawannya dengan cara yang beradab dengan gotong royong", pungkas Stanis.

Sementara itu, Ketua BEM KM Veteran Dimas Faadhilah Hakim dan Ketua PC PMII Sleman Sidik Nur Toha mengaku tetap berkomitmen mengawal isu UU Cipta Kerja sampai tuntas. Mereka menegaskan aksi mengedepankan gerakan yang humanis dan tidak anarkistis. (tan/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:

Pelaku pembakaran fasilitas umum bukan dari mahasiswa dan buruh yang menentang Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja.