JPNN.com

Imlek 2019

Sumatera Negeri Perempuan dalam Kisah Sun Go Kong

Selasa, 05 Februari 2019 – 12:21 WIB Sumatera Negeri Perempuan dalam Kisah Sun Go Kong - JPNN.com

Maka pada masa lampau, bisa dipastikan pengembara dari China ke India, begitu juga sebaliknya, melayari Selat Malaka.

Tak ayal perairan yang menghubungkan China dan Sumatera disebut Nan Hai; Laut China Selatan, laut jalurnya orang China ke Selatan.

Kata Nan Hai ini dipakai pula oleh Pendeta I Tsing untuk judul bukunya Nan-hai Chi-kuei Nei-fa Chuan. Yang artinya Kitab Buddha dari Laut Selatan.
 
Laut Cina Selatan, bersimpang tiga dengan Selat Malaka dan Laut Jawa di Muara Sabak, Jambi.
 
Di kawasan Pantai Timur Sumatera, bersemayam Candi Muara Jambi, reruntuhan negeri tua bercorak Buddha, yang—bagaimana pun—di masyarakatnya hidup sebuah kisah yang meriwayatkan penguasa pertama di Jambi seorang perempuan bernama Puti Selaro Pinang Masak. 
 
Di tengah-tengah pulau Sumatera, bersemayam Candi Muara Takus. Reruntuhan negeri tua bercorak Buddha di Hulu Sungai Kampar, Riau, yang di sekitarnya hidup masyarakat adat bersuku Domo.  
 
“Domo berasal dari kata Darma, Dama,” kata Mang Ling Bungsu, tetua di kawasan Candi Muara Takus, kepada media ini, pekan lalu. Darma adalah ajaran Buddha yang dalam aksara Pali disebut Damma.
 
Masyarakat adat Suku Domo menganut matrilineal. Garis keturunan ibu.
 
Dan, di Pantai Barat Sumatara, ada kelarasan Boddhi Caniago yang dianut masyarakat adat Minangkabau, yang juga menganut matrilineal.
 
Berdasarkan riset kecil-kecilan dan penelusuran langsung ke lokasi yang dilakukan JPNN.com, maka negeri perempuan atau Kingdom of Women atau Xiyouji zhi Nu’erguo yang diangkat film Monkey King 3, berlatar di tanah Sumatera.
 
Sebuah petunjuk tertera pula dalam kitab Xi You. Disebutkan bahwa pada 401 dan 520 Masehi, ada cerdik pandai datang ke Tiongkok dan menerjemahkan banyak sekali kitab Buddha ke bahasa China.
 
Namanya Kumarajiva atau Jiu Mo Luo Shi, dan “Boddhidharma yang dalam bahasa Tionghoa disebut Pu Ti Da Mo datang ke Tiongkok untuk mengajarkan aliran Chan atau Zen Budhisme,” tulis Xi You.
 
Perhatikan baik-baik diksi Boddhidharma, Pu Ti Da Mo, dan Chan. Kata-kata itu sebunyi, dekat sekali dengan Boddhi Chaniago, Puti, Domo, Darma.  
 
Pembaca yang baik, begitulah. "Kaba urang kami kabakan, duto urang kami ndak sato," begitu kata Tukang Kaba, pencerita di tanah Sumatara.   

Sekadar hiburan, di Hari Raya Imlek ini, sila puan dan tuan menonton film Kingdom of Women, serial ketiga Monkey King. Go Xi Fa Coi…(wow/jpnn)

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...