Senin, 18 Maret 2019 – 23:13 WIB

Tak Andalkan Fogging untuk Berantas Demam Berdarah

Jumat, 11 Januari 2019 – 16:03 WIB
Tak Andalkan Fogging untuk Berantas Demam Berdarah - JPNN.COM

jpnn.com, GRESIK - Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik menyebutkan, kasus demam berdarah (DB) mulai terjadi di beberapa kecamatan di Gresik. Dinkes telah mengingatkan masyarakat bahwa selama November hingga Maret biasanya terjadi kenaikan jumlah pasien DB. Solusi utamanya bukan fogging, melainkan pemberantasan jentik nyamuk. 

Dinkes menyebarkan obat abate ke 32 puskesmas di seluruh Kota Santri. Kemarin (10/1) petugas pencegahan demam DB mempraktikkan penggunaan abate. Itu upaya pencegahan pertama. Abate ditaburkan di tempat penampungan air. "Terutama bak mandi," ucap Ruli, petugas pencegahan DB.

Ruli menjelaskan, deteksi pertama bisa menggunakan senter. Tempat-tempat air diperiksa. Ada jentik nyamuk atau tidak. Setelah itu, bak mandi atau tempat air lain ditaburi abate.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Yuhana Haina memastikan, abate tidak berbahaya. Fungsinya hanya membunuh jentik nyamuk. "Ini efektif untuk pencegahan," ujarnya.

Selama ini, lanjut dia, dinkes enggan memanjakan masyarakat dengan fogging. Mengapa? Fogginghanya berdampak sementara. Setelah itu, nyamuk Aedes aegypti berkembang biak lagi. Pengasapan hanya bertujuan mengusir. Tidak membunuh nyamuk. Apalagi, usia nyamuk Aedes aegypti hanya beberapa hari. Dikhawatirkan, nyamuk masih menggigit dan menyebarkan virus. 

Hingga 1 Januari, tercatat berbagai kasus demam berdarah. Data rumah sakit menyebutkan, yang paling banyak pasien asal Kecamatan Kebomas dan Cerme. Contohnya, Dusun Sukorejo, Desa Ngabetan, Cerme. Sudah 30-an warganya gantian opname di beberapa rumah sakit di Gresik dan puskesmas. 

Dinkes mengingatkan, pasien yang mengalami demam tidak biasa sebaiknya segera diperiksa. Kalau memang positif DB dan terlambat ditangani, akibatnya bisa fatal. "Trombosit yang sangat rendah bisa berisiko pendarahan hingga kematian," jelas Kabid P2P Dinkes Gresik dr Ummi Khoiroh.

Pendarahan, antara lain, menimpa Alfiyah. Dia terkena DB akhir 2018. Perempuan warga Desa Gedangkulut, Cerme, itu terlambat berobat. Setelah lima hari demam, baru berangkat ke puskesmas. Trombositnya rendah. 

Perempuan 19 tahun itu mengalami pendarahan di lambung dan gusi. Berdasar data medis RSUD Ibnu Sina, trombosit terendah Alfiyah berada di 11 ribu. Padahal normalnya, 140.000 hingga 450.000.

Dokter lulusan Universitas Airlangga itu mengimbau agar masyarakat menerapkan 3M Plus. Tidak bergantung pada fogging. "Sebaiknya rajin-rajin melakukan 3M Plus. Yakni, menguras, mengubur, dan menutup. Sementara, plusnya usaha lain, seperti menggunakan obat nyamuk dan mengatur intensitas cahaya yang masuk ke rumah," tegasnya.

Ummi mengonfirmasi soal banyaknya pasien yang didiagnosis DB di Puskesmas Cerme. Sebetulnya, jumlah tersebut belum sepenuhnya positif. "Yang positif hanya empat di Puskesmas Cerme. Lainnya hanya suspect DB," imbuhnya. (son/c6/roz) 

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar