Selasa, 25 September 2018 – 15:56 WIB

Tak Mampu Bayar Sewa Rumah di Australia? Pindah ke Adelaide atau Perth

Jumat, 07 September 2018 – 16:00 WIB
Tak Mampu Bayar Sewa Rumah di Australia? Pindah ke Adelaide atau Perth - JPNN.COM

Salah satu lembaga properti tertinggi di Australia memberikan beberapa saran bagi mereka yang ingin mencoba mendapatkan rumah atau properti di Australia yang harganya sedang meroket saat ini.

"Kerja keras, bahkan kalau perlui kerja di dua tempat," kata Presiden Real Estat Institute of Australia (REI), Malcolm Gunning, kepada program ABC TV 7.30.

"Anda mungkin akan membencinya, baiklah, tapi banyak orang-orang yang melakukannya, banyak migran di negara kita yang memiliki dua pekerjaan."

Saat ini lebih banyak orang-orang di Australia yang 'membuang' uang untuk menyewa rumah dibandingkan sebelumnya.

Ini terutama terjadi bagi mereka yang memiliki penghasilan menengah hingga besar di kota Brisbane, Sydney, dan Melbourne, tetapi tidak bisa memasuki pasar perumahan.

Asosiasi penyewa dan kelompok perumahan masyarakat di Australia mengatakan harga sewa rumah yang lebih tinggi telah mempengaruhi penduduk berpenghasilan rendah. Mereka juga terkena dampak dari penurunan jumlah perumahan publik yang menurun signifikan.

Tapi REI mengatakan tidak ada krisis soal keterjangkauan harga sewa saat ini. Semua tergantung di mana Anda ingin tinggal.

"Saya tidak menerima jika disebutkan ada krisis biaya sewa, bukan di seluruh Australia, karena sebagian besar statistik fokusnya di Sydney, Brisbane dan Melbourne," kata Malcolm.

"Alasan mengapa harga sewa belum turun, terutama di Melbourne dan Sydney, adalah karena pertumbuhan penduduk."

"Jika Anda ingin tinggal di pinggiran kota, masih terjangkau, jika Anda ingin hidup lebih dekat ke kota, itu mahal."

"Yang perlu kita lakukan adalah menciptakan pekerjaan di Brisbane, Adelaide, dan Perth, dan saya yakin banyak diantara mereka, jika mendapat jumlah uang yang sama, pada akhirnya akan menyerah juga."

Mendapatkan sesuai nilai yang dibayar

Di Sydney, sekitar lima kilometer dari pusat kota atau CBD, dengan harga sewa AU$ 470, atau hampir Rp 5 juta per minggu, Anda bisa mendapatkan sebuah studio, dimana dapur dan tempat tidur menyatu, dengan balkon, tapi tanpa parkir mobil.

"Tidak semua orang suka studio, tetapi jika Anda ingin kenyamanan [tinggal di pusat kota] itulah caranya," kata Malcolm.

Enam puluh kilometerdari pusat kota, tepatnya di kawasan pinggiran Penrith, barat Sydney, Wendy Gammon dan keluarganya sedang mencari tempat tinggal untuk disewa dengan harga AU$ 400, atau lebih dari Rp 4 juta per minggu.

Mereka akan digusur dari tempat tinggal saat ini, karena akan dihancurkan untuk dijadikan unit-unit apartemen baru.

"Saya sekarang berusia 53 tahun. Untuk tinggal di sebuah unit untuk pertama kalinya di usia saya mungkin akan sedikit mengejutkan," katanya kepada program 7.30.

Suaminya adalah sopir truk, sementara Wendy bekerja di pusat layanan telepon dengan waktu kerja yang berbeda-beda. Artinya anggaran untuk menyewa rumah sangat ketat.

"Pekerjaan saya jauh lebih tidak stabil, jadwal yang berubah-ubah selalu membuat saya tertekan," katanya.

Putranya, Brad kini kembali tinggal bersama mereka untuk membantu membayar uang sewa.

"Saya dan pacar pernah tinggal sendiri selama enam bulan," katanya.

"Harga sewanya AU$ 300, atau lebih dari Rp 3 juta per minggu, terjangkau, tapi hanya unit dengan satu kamar tidur."

"Air panas untuk mandi hanya 30 detik, sebuah mimpi buruk."

Siapa yang paling dirugikan?

Organisasi Asosiasi Penyewa Nasional (NATO) tidak meragukan masalah-masalah itu.

"Kami sedikit mengalami krisis dan ini telah terjadi sejak lama," kata jurubicara NATO, Leo Patterson Ross kepada ABC.

"Saya pikir hal pertama yang perlu kita lakukan adalah menerima bahwa rumah yang disewa juga adalah tempat tinggal, bukan sekedar alat investasi."

"Ketidakpastian inilah yang membuat banyak orang takut. Kita benar-benar tidak tahu berapa yang akan dibayar dalam setahun, dua tahun, 10 [tahun]."

Tapi perusahaan data real estate terbesar di negara itu, CoreLogic, tidak menyetujui pendapat ini.

"Menyewa relatif terjangkau di seluruh Australia," ujar kepala penelitian CoreLogic, Tim Lawless.

"26 hingga 28 persen dari pendapatan rumah tangga diberikan ke pemilik rumah."

"Jika Anda membayar cicilan rumah seperti di Sydney, satu rumah tangga membayar 48 hingga 50 persen dari pendapatan tahunan kotor mereka untuk membayar cicilan rumah."

Tapi dia setuju jika orang berpenghasilan rendah paling menderita.

Tekanan bagi yang berpenghasilan rendah

Pakar geografi ekonomi di lembaga SGS, Ellen Witte justru khawatir dengan mereka yang berada di ekonomi rendah.

"45 persen rumah tangga berpendapatan rendah mengalami tekanan dari biaya sewa," katanya.

"Tentu saja ini situasi yang mengerikan, yang berarti orang membayar 30 persen atau lebih dari pendapatan mereka."

"Hanya sisa sedikit untuk makanan, AC dan penghangat ruangan, transportasi dan pendidikan anak-anak."

Ia mengatakan pemerintah tidak cukup berinvestasi di perumahan publik, sehingga mereka yang dibawah terpaksa hidup di jalanan.

"Sekitar sepertiga dari tunawisma memiliki alasan akibat ketidakterjangkauan, ini jadi pendorong utama," katanya

Artikel ini disunting dari laporan aslinya dalam bahasa Inggris, yang bisa dibaca disini.

 
SHARES
Komentar