Tentang Kegigihan, Keikhlasan, dan Impian Polisi Hebat Itu

Tentang Kegigihan, Keikhlasan, dan Impian Polisi Hebat Itu
Bripka Junaidin, personel Polsek Rasanae Barat, Kota Bima, bersama dengan anak-anak dan pembimbing pondok pesantren Al Fathul Alim, ponpes yang dia dirikan sendiri di desa Songgela, Kota Bima, NTB, Rabu (10/2) lalu. Foto: Tri Mujoko Bayuaji/Jawa Pos

”Kalau saya umumkan juga di desa lain, saya yakin pasti nambah anak-anak di sini,” ujarnya.

Semua santri di Al Fathul Alim yang didirikan dengan biaya dan tenaga sendiri itu memang berasal dari Songgela. Jumlah totalnya 70 anak.

Di ponpes yang cukup jauh dari perkampungan penduduk tersebut, mereka dididik baca dan hafal Alquran.

Junaidin menilai, ada nilai tambah bagi seseorang yang bisa menghafal Alquran, apalagi 30 juz. Nah, di sela mengajar baca dan hafal Alquran, dia menyisipkan pelajaran tambahan yang mungkin tidak diberikan di ponpes lain. Yaitu, ilmu hukum sederhana. Itu sesuai dengan latar belakang profesi Junaidin sebagai polisi.

Yang diajarkan juga sangat mendasar. Misalnya, kalau mengambil barang milik orang lain, seseorang tidak hanya berdosa dan harus mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak. Tapi, juga melanggar hukum negara.

Junaidin merasa tambahan ilmu hukum itu perlu karena alasan utama yang mendorongnya mendirikan ponpes adalah meningkatnya angka kejahatan di Bima.

”Alhamdulillah, anak-anak di sini tidak bermasalah (dengan hukum, Red),” ujarnya bangga.

Untuk ilmu hukum sederhana, Junaidin sendiri yang mengampu. Tapi, untuk baca dan hafal Alquran, Ponpes Al Fathul Alim kini sudah memiliki empat pengajar.

BRIPKA Junaidin mendirikan sebuah pondok pesantren di Desa Songgela, Kota Bima. Para santri juga diajari ilmu hukum sederhana. Jika kelak ponpes

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News