Universitas di Sydney Dikritik Setelah Menghapus Unggahan Twitter Soal Tiongkok

Universitas di Sydney Dikritik Setelah Menghapus Unggahan Twitter Soal Tiongkok
UNSW telah memberhentikan sejumlah staff karena penghasilannya yang menurun dari mahasiswa internasional, yang kebanyakan berasal dari China. (AAP: Dean Lewins)

"Kemitraan ini adalah yang pertama di dunia dan memiliki potensi untuk memulihkan hubungan bilateral Australia-China dan meningkatkan sistem inovasi negara," kata Presiden dan Wakil Rektor UNSW, Ian Jacobs.

Laporan tahunan UNSW tahun lalu mengatakan, universitas ini telah menandatangani kontrak bernilai lebih dari A$60 juta dengan 42 mitra China di bawah skema Torch sejak 2016.

Universitas di Sydney Dikritik Setelah Menghapus Unggahan Twitter Soal Tiongkok Photo: Presiden dan Wakil Rektor UNSW Australia, Ian Jacobs, menandatangani program kerjasama 'Torch Innnovation Precinct' bersama mantan perdana menteri Malcolm Turnbull dan Premier Li Keqiang di 'Great Hall of the People' di Beijing. (Supplied: UNSW)

 

Pada Juni 2018, universitas ini juga membuka UNSW China Center di Shanghai "untuk memperlihatkan kehadiran institusi ini di China dan selanjutnya membangun hubungan China-Australia".

Universitas ini juga merupakan rumah bagi Institut Konfusius yang didanai Pemerintah China, yang dalam situs webnya tergambar sebagai "perwujudan harmoni lintas budaya".

UNSW baru-baru ini juga mengumumkan rencana memberhentikan 500 staf penuh waktu karena kekurangan dana sebesar A$370 juta, terkait berkurangnya pendapatan siswa internasional karena pandemi virus corona.

Pada bulan Juni, Biro Pendidikan China memperingatkan warganya untuk tidak bepergian ke Australia karena meningkatnya "insiden rasis" selama pandemi.

Ikuti berita lainnya di ABC Indonesia.


University of New South Wales (UNSW) menerima kritik setelah menghapus unggahan di Twitter yang bernada kritis terhadap Beijing


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News