Usai Lebaran, Harga Premium dan Solar Berpotensi Naik

Usai Lebaran, Harga Premium dan Solar Berpotensi Naik
Ignasius Jonan. Foto: Imam Husein/dok.JPNN.com

Fluktuasi harga minyak dunia membuat pemerintah kembali mengevaluasi harga minyak Indonesia (Indonesia crude price/ICP) dalam asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017. Pemerintah juga mengevaluasi target produksi minyak siap jual (lifting) pada 2018.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menuturkan, evaluasi dilakukan karena harga minyak dunia tidak dapat diprediksi. Meski demikian, asumsi di APBN dianggap hal terbaik yang bisa dicapai.

”Namun, asumsi terbaik itu pun belum tentu sama dengan kenyataan di dunia. Sebab, tidak ada seorang pun yang bisa memprediksi harga minyak dunia,” jelas Candra di Kantor Kementerian ESDM kemarin (5/6).

Sementara itu, pemerintah menargetkan lifting minyak pada 2018 mencapai 800 ribu barel per hari. Target tersebut ditetapkan untuk memacu semangat kontraktor kontrak kerja sama agar terus meningkatkan produksi atau minimal mempertahankan pencapaian lifting.

”Tahun ini targetnya 771.000 barel per hari. Produksi tahun depan kalau bisa di atas 800.000 barel per hari,” kata Candra.

Untuk mencapai target, Kementerian ESDM akan bertemu dengan KKKS untuk mendapatkan komitmen teknologi yang digunakan untuk meningkatkan produksi minyak dalam waktu singkat.

”Kalau ada komitmen-komitmen yang lebih rendah daripada targetnya, kami bilang apa masalahnya,” ungkapnya.

Salah satu kendala yang dihadapi KKKS, lanjut dia, adalah masalah perizinan. Karena itu, Candra meminta SKK Migas membantu percepatan perizinan, terutama di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan serta izin di daerah-daerah.

Harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya premium dan solar, akan dievaluasi pemerintah setelah tekanan inflasi selama Ramadan dan Lebaran mereda.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News