Usia 16 Baru Masuk SMP, Tahu Indonesia Hanya Sulawesi

Usia 16 Baru Masuk SMP, Tahu Indonesia Hanya Sulawesi
Usia 16 Baru Masuk SMP, Tahu Indonesia Hanya Sulawesi
Dari jumlah tersebut, yang bisa mengenyam pendidikan setingkat SD tidak sampai separo. Sedangkan yang mengenyam pendidikan SMP hanya sekitar 500 anak. Itu pun, pendidikan SD dan SMP-nya hanya nonformal. Dengan begitu, ijazah yang mereka peroleh hanya ijazah seperti kejar paket A dan B.

Setelah rombongan menteri tiba, anak-anak yang belajar di pusat kegiatan belajar mengajar (PKBM) perkebunan kelapa sawit Merotai langsung berjajar rapi. Mereka menyambut kedatangan Nuh dengan tabuhan rebana. Seluruh siswa lantas memadati PKBM yang hanya terdiri atas tiga ruang kelas itu.

Di antara para siswa PKBM Merotai yang baru saja naik ke tingkat SMP, ada Nuranita binti Nuddin. Bocah kelahiran Makassar, 12 Desember 1995, tersebut tinggal di perkebunan sawit itu sejak berumur dua bulan. Dia ikut Nuddin, ayahnya, dan Rosmiati, ibunya, yang bekerja sebagai buruh di tempat tersebut. Ya, meski usianya sudah 16 tahun, dia baru masuk kelas setara SMP. Padahal, umumnya, anak seusia dia minimal sudah kelas 1 SMA.

Sambil bercerita tentang pengalaman belajar di dalam perkebunan sawit, bulir-bulir keringat muncul di kening Nuranita. Maklum, dia ikut rombongan penabuh rebana yang menyambut kedatangan Nuh. "Ini sekolah saya. Kondisinya sudah lebih baik," kata dia dengan logat Melayu.

SEDIKITNYA 40.000 anak TKI tersebar di perumahan pekerja perkebunan kelapa sawit di Tawau, Sabah, Malaysia. Mereka menghadapi problem besar, yakni

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News