Virus Corona Bukan Vonis Mati, Tingkat Kematian Lebih Rendah dari Wabah Lain

Virus Corona Bukan Vonis Mati, Tingkat Kematian Lebih Rendah dari Wabah Lain
Warga yang mewaspadai virus corona menggunakan masker wajah saat melintasi kawasan MH. Thamrin, Jakarta, Selasa (3/3). Foto : Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Sejak akhir 2019, dunia cemas dengan wabah baru yang disebabkan virus corona tipe baru (novel coronavirus), COVID-19. Pertama muncul di Wuhan, kota dagang terpadat di Provinsi Hubei dengan populasi lebih dari 11 juta jiwa.

Banyak spekulasi tentang penularan virus, tetapi sejumlah penelitian menduga penyakit itu tumbuh dari pasar hewan hidup di Wuhan yang tidak higienis. Namun, publik panik dan gelisah dengan virus corona jenis baru karena saat informasi itu mulai bocor, puluhan ribu orang telah tertulari dan korban tewas telah mencapai ribuan jiwa.

Dari akhir tahun lalu sampai Kamis (5/3), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut jumlah pasien positif tertulari virus di Tiongkok mencapai 80.565 jiwa, sementara di seluruh dunia, angkanya menembus 95.333 jiwa. Untuk wilayah Tiongkok, korban jiwa akibat virus itu mencapai 3.015 jiwa, sementara di luar Tiongkok, angkanya menembus 267 jiwa.

Sementara itu, data statistik worldometers, laman penyedia informasi statistik independen yang telah menjadi rujukan berbagai lembaga dunia, per Jumat (6/3) menunjukkan 100.162 jiwa dilaporkan positif tertulari virus dan jumlah korban tewas mencapai 3.406 jiwa.

Akibat jumlah pasien dan korban jiwa yang terlampau banyak, masyarakat di berbagai negara sempat dilanda ketakutan dan kepanikan massal. Tidak hanya itu, wabah juga sempat memicu aksi kekerasan dan intimidasi berbasis rasial terhadap warga asal Tiongkok dan negara di Asia Timur lainnya.

Kasus terbaru yang cukup viral, seorang warga Singapura keturunan Tiongkok, Jonathan Mok, melaporkan empat oknum tak dikenal menyerang dirinya sampai babak belur di Jalan Oxford, London, pada medio Februari. Dari kesaksian Mok, empat pemuda yang menyerang dia sempat mengatakan 'kami tidak ingin ada virus corona di sini'.

Panik dan takut tentu respons yang cukup wajar, tetapi jika berlebihan bisa berujung pada akibat yang tidak perlu sebagaimana banyak kasus kekerasan yang terlanjur terjadi ditambah aksi belanja besar-besaran (panic buying) hingga memicu aksi penimbunan dan kelangkaan masker, cairan pembersih tangan (hand sanitizer), tisu dan alat kebersihan lainnya.

Oleh karena itu, respons yang lebih positif justru dibutuhkan di tengah wabah karena penyakit COVID-19 bukan vonis mati yang tidak bisa disembuhkan. Sejak virus itu mewabah, banyak pasien dari berbagai negara yang dinyatakan negatif virus corona dan kembali pulih.

Dengan langkah cepat, terukur dan arah yang jelas, virus corona bisa ditangani tanpa mengorbankan banyak korban jiwa. Seluruh unsur pemerintahan harus terlibat.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News