Wajar Saja Hakim Marah, Yang Mulia Menghadapi Kasus Pembunuhan Berencana dan Banyak Polisi Merintangi Penyidikan

Wajar Saja Hakim Marah, Yang Mulia Menghadapi Kasus Pembunuhan Berencana dan Banyak Polisi Merintangi Penyidikan
Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel. Foto: Andika Kurniawan/JPNN.com

Akibatnya, lanjut Reza, jangan kaget kalau nantinya hakim memberikan hukuman sangat berat.

"Hakim juga pantas marah, setelah melihat keluarga Yoshua marah. Lewat amarahnya, hakim meyakinkan keluarga korban bahwa mereka berada dalam naungan hakim," ucap penyandang gelar MCrim (Forpsych-master psikologi forensik) dari Universitas of Melbourne Australia itu.

Dia juga menilai hakim ingin menunjukkan bahwa persidangan ini bisa diandalkan untuk memperjuangkan nasib korban

"Hakim yang menyidangkan perkara pembunuhan berencana dan perintangan penegakan hukum sudah marah dengan tepat. Amarah yang tepat, adalah amarah yang punya nilai yudisial," tegasnya.

Reza juga menjelaskan ciri-ciri amarah hakim yang punya nilai yudisial. 

"Pertama, tertuju ke pihak yang memang pantas dimarahi. Yakni saksi yang berdusta, berbelit-belit, dan tidak natural saat menjawab. Kedua, marahnya hakim didasarkan pada alasan yang sesuai. Ketiga, amarah itu diungkapkan dengan cara yang tepat," pungkas Reza.(mcr8/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Dari hasil penelitian, hakim yang marah menandakan dia termotivasi dan menjiwai perkara yang tengah dia sidangkan.


Redaktur : Fathan Sinaga
Reporter : Kenny Kurnia Putra

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News