Minggu, 21 September 2014 | 13:08:52
Home / Internasional / Amerika / Demo Tolak Newmont, Tiga Warga Peru Tewas

Rabu, 04 Juli 2012 , 16:06:00

BERITA TERKAIT

LIMA - Kerusuhan pecah di sebelah utara Peru, Selasa (3/7) akibat penolakan warga atas rencana pembangunan tambang emas oleh raksasa pertambangan Amerika Serikat, Newmont. Warga yang memrotes proyek tersebut bentrok dengan polisi hingga 3 orang tewas dan 20 lainnya terluka.

Dilaporkan AFP, Rabu (4/7) di antara korban tewas dalam insiden di Kota Celendin, wilayah Cajamarca tersebut adalah seorang remaja berusia 17 tahun. Selain itu, 15 orang pendemo dilaporkan telah ditangkap polisi di lokasi tambang yang bernama Conga.

Kerusuhan bermula setelah sekitar 1000 pendemo melemparkan batu sebagai bentuk protes ke berbagai gedung pemerintahan di Celendin. Polisi yang dipanggil ke lokasi lalu merespon dengan menembakkan gas air mata dan memukuli pendemo dengan pentungan.

“Dalam bentrok tersebut, dua petugas polisi terluka akibat tembakan yang dilepaskan oleh para pendemo yang mencoba mengambil alih kota,” tulis keterangan resmi dari Kementerian Dalam Negeri Peru. Pemerintah menuduh para demonstran melakukan tindakan kriminal.

Menyusul bentrok tersebut, pemerintah pusat langsung menetapkan keadaan darurat di Cajamarca dan melarang warga berkumpul di luar rumah. Pemerintah juga memerintahkan pihak militer untuk membantu polisi menjaga keamanan.

Para pendemo mengatakan, proyek tambang Conga akan mencemari sungai dan danau di daerah tersebut sehingga merusak persediaan air warga. Aksi mereka dipicu oleh sikap Wali Kota Celendin, Mauro Arteaga yang mendukung berlangsungnya proyek yang awalnya  disetujui oleh pemerintahan mantan Presiden Alan Garcia di tahun 2010 lalu.

Proyek tambang open-pit tersebut berlokasi di ketinggian 3.700 meter di atas permukaan laut dan akan memulai proses pembangunan pada tahun 2014 mendatang. Proses awal proyek tersebut akan melibatkan pemindahan debit air dari 4 laguna di pegunungan Andes ke beberapa danau buatan yang akan dibangun pihak perusahaan asal Amerika Serikat tersebut.(AFP/ara/jpnn)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar