Kamis, 18 September 2014 | 08:41:23
Home / Ekonomi / Valas / Banjir Dana Asing Tak Akan Dibatasi

Senin, 04 Oktober 2010 , 01:51:00

BERITA TERKAIT

JAKARTA - Dana asing terus membanjiri sistem keuangan Indonesia. Sepertinya, tren ini akan terus berlanjut. Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto mengatakan, hingga saat ini, kebijakan pemerintah terhadap dana asing masih tetap, yakni tidak membatasi.

"Kita tidak akan mengeluarkan kebijakan-kebijkaan yang tidak ramah terhadap pasar,  misalnya pembatasan (dana asing)," ujarnya di Jakarta baru-baru ini.

Menurut Rahmat, pemerintah tidak mempermasalahkan volume dana asing yang masuk ke sistem keuangan Indonesia, salah satunya ke instrumen Surat Utang Negara (SUN). Yang penting, lanjut dia, fundamental perekonomian Indonesia kuat. "Sehingga, investor confidence (percaya diri). Asalkan confidence investor asing tinggi, itu tidak masalah," katanya.

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, dana asing memang mengalir deras ke sistem keuangan Indonesia. Itu tecermin dari lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) maupun dana di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan SUN.

"Pembelian portofolio domestik oleh investor asing terus berlanjut. Sepanjang pekan terakhir September, penempatan dana asing pada portofolio domestik mencapai net Rp 9,0 triliun, terutama di SBI dan SUN," ujar Kepala Biro Humas BI Difi A. Johansyah.
 
Rahmat menambahkan, masuknya investor asing disebabkan kepercayaan karena fundamental perekonomian Indonesia yang kuat. "Buktinya, rating agency (lembaga pemeringkat) terus meningkatkan rating kita dalam setahun terakhir, bahkan Jepang sudah menaikkan (rating Indonesia) ke investment grade," katanya.

Selain itu, lanjut Rahmat, situasi perekonomian global saat ini juga belum kondusif karena krisis utang yang melanada Eropa serta recovery perekonomian Amerika Serikat (AS) yang tidak seperti yang diharapkan lambat.

Dengan demikian, kata Rahmat, bank sentral di banyak negara akan menahan tingkat suku bunganya pada level yang rendah, sebagai bagian dari stimulus untuk mendorong perekonomian. "Karena itulah, mereka (investor, Red) masuk ke negara-negara emerging market, seperti Indonesia," ucapnya.

Menurut Rahmat, dengan masuk ke emerging market, investor bisa memperoleh yield atau imbal hasil investasi yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju yang masih dalam bayang-bayang krisis. "Apalagi, Rupiah juga  cenderung menguat sehingga menjadi daya tarik. Sebab, kalau investasi ke sini  dalam bentuk Rupiah dan Rupiah menguat, maka keuntungan akan optimal," paparnya. (Owi)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar