Rabu, 01 Oktober 2014 | 13:01:45
Home / Internasional / Eropa / Belanda Baru Akan Akui Kedaulatan Indonesia

Jumat, 01 Oktober 2010 , 05:25:00

BERITA TERKAIT

JAKARTA - Meski sudah 65 tahun Indonesia merdeka, pemerintah Belanda ternyata belum pernah menyatakan pengakuan secara resmi dan tertulis kedaulatan Indonesia. Dokumen bersejarah pengakuan kedaulatan itu baru akan disampaikan pemerintah Belanda saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkunjung ke negeri kincir angin itu 5-8 Oktober nanti.

Selama ini, secara resmi Belanda belum mengakui kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Bangsa yang pernah menjajah Indonesia selama 3,5 abad itu mengakui kemerdekaan Indonesia berdasar soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) yang ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam, pada 27 Desember 1949.

"Pengakuan kedaulatan (dari pemerintah Belanda) akan menjadi salah satu yang penting dalam kunjungan presiden nanti. Sebab, secara tertulis," kata Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (30/9).

Faizasyah mengatakan, penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1949, berbeda dengan pengakuan kedaulatan. Secara de facto, pemerintah Belanda telah mengakui kedaulatan Indonesia. Yakni, ketika untuk kali pertama Menlu Belanda Bernard Rudolf Bot menghadiri upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI ke-60 pada 17 Agustus 2005. Langkah Menlu Belanda kala itu menjadi sejarah baru yang mendobrak tabu hubungan Belanda-Indonesia.

Faizasyah mengatakan, pengakuan kedaulatan secara tertulis diharapkan bisa menghapus hambatan psikologis yang masih ada. "Mau tidak mau, karena selama ini ada beban, ada realitas sejarah yang selalu jadi sisi cara pandang," kata dia. Dokumen pengakuan kedaulatan mulai digagas pada 2009.

Presiden SBY akan melakukan kunjungan resmi kenegaraan ke Belanda pada 5?8 Oktober mendatang. Presiden memenuhi undangan Ratu Beatrix yang disampaikan empat tahun silam. Dalam kunjungan bilateral ke negeri kincir angin tersebut, akan ditandatangani perjanjiann kemitraan komprehensif antarkedua negara.

"Dengan (kemitraan komprehensif) itu, kedua negara bisa lebih melihat ke depan, tidak lagi terseret-seret oleh beban sejarah dan ini menunjukkan kedewasaan hubungan kedua negara," kata Faizasyah. (sof/ari)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 18.10.2010,
        17:34
        tujuh
        Gak penting pengakuan dari Negara perampok,,,harusnya mereka yang meminta maaf atas semua yang telah mereka lakukan...Mereka menjadi negara maju bermodalkan hasil 'jarahan' yg mereka ambil dari setiap tetes keringat, darah, dan air mata bangsa ini,,apakah kita layak meminta maaf? gak masuk akal...
      2. 10.10.2010,
        22:38
        abuchiek
        Belanda saat dulu disembelih waktu pertama kali ke NAD, KLO BGINI STATEMENTNYA MARI KITA SEMBELIH RAME-RAME... DASAR BELANDA..
      3. 04.10.2010,
        23:29
        sixbalak
        Emang Belande kemane aje selama ini?
      4. 04.10.2010,
        14:03
        dalang bingung
        mengapa harus bingung2 dgn pengakuan belanda,mau tak mengakui kek mau kek tak jadi soal.yg terpenting respon cepat bgmana kemiskinan bs diatasi.