Senin, 20 Oktober 2014 | 16:45:54
Home / Berita Daerah / Kaltim / 6 Nasabah Best Profit Rugi Rp1,9 Miliar

Selasa, 04 Oktober 2011 , 11:47:00

BERITA TERKAIT

SAMARINDA - Nasabah yang merasa menjadi korban PT Best Profit Future (BPF) Cabang Samarinda terus bertambah. Satu per satu mereka yang mengaku dirugikan menyampaikan protes ke kantor perusahaan di Kompleks Mal Lembuswana, Jalan S Parman, Samarinda.
Kemarin (3/10), empat nasabah kembali mendatangi kantor BPF untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan. Mereka adalah Faisal, Iwan, Rusnoni, dan Fenny. Sebelumnya, nasabah lain yang mengalami nasib serupa juga telah mengadu, yakni Rusnani dan Mahjudin. Total kerugian keenam nasabah itu mencapai Rp 1,9 miliar. Rinciannya, Faisal Rp 100 juta, Iwan Rp 100 juta, Rusnoni Rp 700 juta, Fenny Rp 359 juta, Rusnani Rp 400 juta, dan Mahjudin Rp 315 juta.
 
Keempat nasabah yang mendatangi kantor BPF untuk mendiskusikan pertanggungjawaban perusahaan, menemui jalan buntu. Pengakuan Faisal, setelah berdialog dengan Kepala Cabang BPF Samarinda Dicky, pada intinya perusahaan tidak mau mengganti uang nasabah. "Tidak ada kebiasaan perusahaan mengembalikan uang nasabah," ucap Faisal menirukan komentar Dicky. Dia lantas melanjutkan, Dicky meminta waktu satu hingga dua hari untuk mencari solusi penyelesaian masalah tersebut.

Faisal mengatakan, keterlibatan dia dalam ikatan bisnis tersebut lantaran dijanjikan tak akan mengalami kerugian ataupun berkurangnya modal awal. "Memang risiko bisnis tersebut tak dijelaskan secara detail," kata Faisal. Lanjut dia, perusahaan pernah melaporkan tentang penurunan modal. Namun, bukti transaksi yang dilakukan pialang saham perusahaan tak pernah diperlihatkan. Faisal sendiri menginvestasikan uang sebesar Rp 100 juta untuk komoditas emas. Saat ini yang tersisa hanya Rp 22 juta.

Nasabah lainnya bernama Iwan menyebut, pernah dikabarkan bahwa dana yang diinvestasikannya mengalami keuntungan. "Modal pernah naik hingga 40-50 persen," kata dia. Namun, lanjut Iwan, ketika dia hendak mengambil keuntungan tersebut, pihak perusahaan tidak memberikan. Alasannya, dana masih digunakan untuk ketahanan modal.
 
Hal serupa dialami Rusnoni. Pengusaha bengkel ini mengaku tidak pernah mengambil keuntungan dari investasinya meskipun dilaporkan mendapat laba hingga 40 persen. "Keuntungannya tidak bisa ditarik," terangnya.
 
Hingga saat ini, korban yang merugi akibat ulah spekulatif perusahaan teridentifikasi sebanyak enam orang. Sejauh ini, hanya satu korban atas nama Fenny yang secara resmi melaporkan kepada pihak kepolisian. Namun, santer beredar isu di kalangan sesama korban, masih banyak nasabah lain yang merugi.  Hanya saja mereka enggan melapor lantaran malu.

Jalan buntu yang mengadang korban untuk meminta tanggung jawab perusahaan berujung pada laporan kepada DPRD Samarinda. Salah seorang korban mengadu kepada wakil rakyat Kota Tepian itu. Tak berapa lama, Ketua Komisi I DPRD Samarinda Suyadi bersama anggota lainnya menyambangi kantor BPF di kompleks Mal Lembuswana.

Sempat terjadi kericuhan, lantaran nasabah bersama awak media yang ingin mengikuti diskusi anggota dewan dengan pihak perusahaan, dilarang masuk oleh sekuriti kantor. Meski dengan gurat kecewa, pihak BPF akhirnya merelakan para pencari berita masuk ke kantornya.

Pada pertemuan siang kemarin, Suyadi melakukan pemeriksaan terkait izin tempat usaha BPF. Namun, Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) tak bisa dihadirkan perusahaan. Melalui Dicky, kepala cabang Samarinda, BPF memperlihatkan surat perizinan sistem bisnis yang diterbitkan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi dari Kementerian Perdagangan yang diterbitkan per tanggal 4 Februari 2009.

Bahkan, Dicky berulangkali meminta waktu untuk memeriksa dokumen perizinan yang dimilikinya. Ketua Komisi I sempat mencak-mencak lantaran BPF dianggap tidak siap melayani. "Ada pergantian manajemen beberapa waktu lalu," kata Dicky.

Suyadi mengatakan, keberadaan BPF dianggap ilegal lantaran tak mengantongi SITU dan SIUP. "Memang benar ada izin dari pusat. Namun, perusahaan harus mengurus izin lokal di mana dia berdiri," kata Suyadi saat pertemuan. Dia bahkan menyebut, BPF tidak memberi kontribusi positif bagi pembangunan bisnis di Samarinda.

Selain itu, Suyadi juga meminta agar pihak kepolisian secepat mungkin menyelesaikan penyelidikan kasus ini. "Jika ada indikasi penipuan, segera tindak sesuai hukum yang berlaku," katanya. Dia menambahkan, DPRD akan melakukan pengawasan ketat terhadap kasus ini untuk melindungi warga Samarinda yang ingin berinvestasi. "Kita akan panggil segera pihak perusahaan untuk hearing dan diskusi lebih mendalam tentang permasalahan ini agar tak ada lagi korban berikutnya," kata Suyadi.

Dalam diskusi kemarin, Dicky mengaku jumlah nasabah BPF hingga saat ini berkisar hingga 70 orang. Namun, dia tidak tahu persis berapa jumlahnya. Tentang pertanyaan anggota dewan terkait jumlah dana yang sudah didulang perusahaan dari nasabah, Dicky tak bisa membeberkan hal tersebut. "Itu privacy perusahaan," kilahnya.

Pada kesempatan itu, seorang nasabah bernama Faisal mengaku ketika ditawarkan bergabung dengan investasi BPF, perusahaan mengatakan bisnis yang dijalankan adalah pasar saham. Namun belakangan, Kepala Pusat Informasi Pasar Modal Balikpapan Dinda Ayu Amalliya, selaku wakil PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di daerah, mengatakan PT BPF bukan anggota bursa di BEI. Adapun bisnis perusahaan tersebut bukan bermain di pasar modal, melainkan di future market bursa berjangka.

"Sekiranya PT Best Profit adalah anggota bursa, maka akan bisa dilacak soal kepemilikan dana atau efek yang bersangkutan," jelas Dinda.

Karena itu, sebelum menginvestasikan dananya ke dalam suatu bentuk investasi, Dinda mengajak masyarakat untuk perlu mencari tahu terlebih dulu informasi sebanyak-banyaknya terkait instrumen yang akan dipilih. Menurut dia, perlu kehati-hatian dengan investasi yang menjanjikan keuntungan besar dengan risiko kecil. "Sebab pada prinsipnya, return (hasil) itu akan berbanding lurus dengan risikonya. Semakin besar keuntungan, maka semakin besar pula risiko yang ditanggung," jelasnya.

Sebagai pemegang dana, Dinda mengimbau warga untuk bijak menempatkan dananya di salah satu media investasi yang jelas regulasinya, mekanisme, keuntungan serta risikonya. "Dan usahakan untuk terus memantau investasi yang telah ditanamkan," sarannya.

Bedanya bursa berjangka dan bursa saham, kata dia, terletak pada kontrak. Perdagangan berjangka tidak diterbitkan sebagaimana penerbitan saham. Sementara di bursa saham, yang terjadi adalah perdagangan saham yang sudah diterbitkan dan dilempar ke pasar saham oleh suatu perusahaan. "Dengan catatan, siapapun yang membeli saham, pasti memiliki saham yang diberinya. Jadi ada bukti kepemilikan," ucapnya.

Sementara itu, Dicky yang hendak dikonfirmasi tentang hal tersebut kemarin, belum bersedia diwawancara wartawan. "Nanti-nanti," kata dia ketika akan diwawancara setelah kunjungan anggota dewan.

Pernyataan BEI yang menyebutkan BPF bergerak di bisnis future market bursa berjangka diperkuat dengan surat izin dari Departemen Perdagangan Pusat yang dikantongi perusahaan. Pada surat tersebut, tertulis "Penetapan Kantor Cabang Pialang Berjangka". (ibr/*/dwi/far)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 25.06.2014,
        04:21
        awesome seo
        MKkCA5 Looking forward to reading more. Great blog.Really thank you! Want more. From mobile
      2. 12.02.2014,
        10:42
        sofyan hadi
        Bestprofit itu adl perusahaan yg RESMI...
        Saya Sebagai Broker Bestprofit malang kecewa dgn Orang' yg menganggap Bestprofit itu Penipu...
      3. 26.10.2013,
        09:33
        Mnurwata
        Jd bingung ne.. Pdhal aq ada rencana mw ngelamar kerja di bpf pekanbaru loh.. Katanya gaji pokok karyawannya 2.5 juta gt. Apa bner ya???? Tolong ksh infonya donk teman2 From mobile
      4. 13.07.2013,
        01:08
        toni sefriyanto
        ga da nasabah tapi mau dapet gaji,,nampak banget malasnya coy,,disini gaji setara dengan usahamu,ga kerja ya ga du gaji,kampungan....
      5. 26.06.2013,
        12:28
        andre
        HATI2 MASYARAKAT SAMRINDA SEKUTUNYA BESTPROFIT PT KONTAK PERKASA SEMINGGU INI BUKA KANTOR DISAMARINDA......MUSNAHKAN SEMUA PERUSAHAAN PIALANG
      6. 07.06.2013,
        13:41
        Doenal Pangeran Jakarta
        hahaha... Untuk kemaren Gwe gk jadi masuk PT. BEST PROFITE yang katanya bisa menggaji karyawannya lebih dari UMR Jakarta. Dan mendapat sekitar Jt
      7. 16.04.2013,
        12:06
        jack
        Stop menggunakan kata Investasi,,
        ini murni judi..
        g ada 1 barometerpun yang bisa dijadikan menjadi acuan..
      8. 04.04.2013,
        11:18
        moka
        investasi yg aman itu dibawah naungan BAPPEBTI jd BPF itu aman koc.. nasabahnya aja yg tdk teredukasi... dan 1 lg pilih broker yg profesional..:)
      9. 26.03.2013,
        20:50
        wardani
        Tolong kasih tahu saya tentang pengalaman anda terkait BPF. Sehinnga saya bisa mengambil keputusan yang benar untuk menginvestasikan uang saya..mohon bantuannya ya.
        Email: wardaniband@gmail.com From mobile
      10. 09.03.2013,
        10:57
        sutarta
        yang pasti perusahaan itu tahu persis caranya menguasai uang orang lain,tanpa bisa di hukum manusia,semoga Alam semesta yang akan menghukum.