Sabtu, 05 September 2015 | 08:10:11

Jumat, 18 November 2011 , 09:51:00

MANOKWARI-Teriakan-teriakan ‘’Papua Merdeka’’ menyemarakkan aksi unjuk rasa damai di Kantor DPR Provinsi Papua Barat (DPRPB), Kamis (17/11). Ribuan massa turun ke jalan, long march dari Jalan Pahlawan Sanggeng,Jalan Yos Sudarso,Jalan Merdeka,sebelum akhirnya menyampaikan aspirasi di halaman  Kantor DPR PB.

Drs Abraham Ramar menyatakan,aksi ini sebagai bentuk meminta perhatian kepada pemerintah Indonesia maupun dunia internasional,bahwa Papua telah merdeka sejak 19 Oktober 2011 saat Kongres Rakyat Papua III dan dideklarasikannya pembentukan negara Federasi Papua Barat,dimana Foskorus Yaboisembut sebagai presiden dan Ev Edison Waramoi sebagai perdana menteri.

‘’Demo ini meminta dukungan masyarakat internasional. Papua sudah merdeka sejak 19 Oktober 2011 dan sekarang tinggal pengakuan dari negara-negara sebagai salah satu syarat utama sebuah negara. Terutama negara-negara pasifik akan segera mengakui,termasuk Amerika Serikat,’’ ujar Ramar kepada wartawan usai berunjuk rasa.

Massa berkumpul di Kantor Dewan Adat Papua (DAP) dan mulai bergerak,long march sekitar pukul 10.30 Wit,sebagian menggunakan sepeda motor. Ikut serta sejumlah tokoh-tokoh,seperti mantan anggota DPD-RI, Fernanda Ibo-Yatipai, tokoh agama,Pdt M.L Wanma dan lainnya.

Sejumlah spanduk dan panflet mewarnai aksi unjuk rasa,diantaranya “Stop Dialog, Referendum Yes”. “Indonesia Harus Bertanggung Jawab Terhadap Pelanggaran HAM  Berat pasca Kongres Papua III 19 Oktober 2011,Kami Bangsa Papua Kulit Hitam Rambut  Keriting Ingin Berdiri Sendiri,Perjuangan Papua sudah final 19 Oktober 2011”.

Massa juga membawa foto-foto Presiden Amerika Serakat Barack Obama serta mengucapkan selamat datang atas kedatangan Barack Obama di Bali Indonesia,’’Welcome Barak Obama in Indonesia’’,demikian tulisan di spanduk. Foto Foskorus Yaboisembut dan Ev Edison Waramoi juga menghiasi demo.

Massa yang terus meneriakkan  ‘’Papua Merdeka’’ diterima Wakil Ketua DPRPB, Robby Nauw serta sejumlah anggota DPR PB,seperti Obed Ayok,Efendi Simanjutak,Amelia Simorangkir. Sementara itu,puluhan personel polisi berjaga-jaga.

Secara bergantian sejumlah tokoh,Pdt ML Wanma,Markus Yenu,Ferdinanda Ibo-Yatipai menyampaikan orasi. M.L Wanma menyebut bahwa Papua telah merdeka,bukannya mau merdeka.Ia juga menyinggung rencana penempatan 2.500 personel mariner Amerika Serikat di Australia.

Sedangkan Mama Ibo menyoroti penembakan terhadap warga Papua oleh aparat keamanan saat Kongres Rakya Papua III di Jayapura. Abraham Ramar,selaku koordinator menyatakan,rakyat Papua tidak perlu berdialog dengan pemerintah Indonesia.Namun,sekarang tinggal pengakuan dari negara-negara internasional bagi kemerdekaan Papua.

Pada kesempatan ini,Ramar membacakan pernyataan sikap berisikan 2 butir,yakni pertama,Kami rakyat bangsa Papua tertekad menolak dengan tegas segala bentuk tawaran yang dipaksakan  oleh pemerintah Indonesia kepada rakyat bangsa Papua termasuk di dalamnya peningkatan uang otonomi khusus dan dialog.

Kedua,kami rakyat bangsa Papua mendesak pemerintah Republik Indonesia untuk segera memberikan ‘’Pengakuan’’ atas kemerdekaan bangsa Papua yang dideklarasikan tanggal 19 Oktober. Pernyataan ini kemudian diserahkan kepada Wakil Ketua DPRPB,Robby Nauw dan Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Manokwari, Yusak Iryo.

Juga dibacakan hasil KRP III,mengenai profil negara/atribut negara,yakni nama negara Federasi Papua Barat,lambang  negara Burung Mambruk,bendera negara Bintang Fajar (morning star), lagu kebangsaan Hai Tanah ku Papua,kepala negara presiden,kepala pemerintahan perdana menteri,lembaga yudikatif,lembaga legislative,kepala wilayah negara bagian gubernur. Mata uang West Papua Golden,bahasa nasional Inggris,Fidjing,Bislama dan diakui bahasa lokal lainnya,luas wilayah 160.000 km2 dan meliputi 128 derajat 45 BT-141 48’ dan antara 1 derajat 19’ LU-10 derajat 45 LS.

Wakil Ketua DPRPB,Robby Nauw menyatakan,pihaknya hanya sebatas menerima aspirasi yang disampaikan kemudian akan diserahkan ke pemerintah pusat. DPRD tidak punya kewenangan untuk menjawab aspirasi yang disampaikan ini.’’DPRD tidak bisa menolak aspirasi.Dewan hanya bersifat melanjutkan pada pemerintah Indonesia,’’ ujar Nauw sembari mengatakan,aspirasi yang disampaikan merupakan perjuangan yang luar biasa.

Berlangsung sekitar 1 jam,aksi demo damai berakhir. Ditutup dengan doa.Massa pun membubarkan diri dengan tenang.(lm)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar