Jumat, 29 Agustus 2014 | 15:03:49
Home / Politik / Pilkada / PDIP tak Mau Gegabah di Pilgub Sumut

Kamis, 19 April 2012 , 07:35:00

BERITA TERKAIT

JAKARTA - Langkah Bupati Serdang Bedagai (Sergai) Ir. H. T. Erry Nuradi M.Si yang dikabarkan telah ikut mengambil formulir pendaftaran sebagai bakal calon gubernur Sumut ke PDI Perjuangan, disambut dengan tangan terbuka oleh DPP partai banteng moncong putih itu.

Ketua DPP PDIP, Maruarar Sirait, mengatakan, memang partainya tidak membatasi latar belakang partai kandidat yang mendaftar ke PDIP. "Kita punya mekanisme terbuka. Boleh dari orang partai sendiri, boleh dari luar partai. Boleh mendaftar, tapi tentu ada syarat," ujar Maruarar Sirait saat dihubungi JPNN.

Dijelaskan, jika pendaftar berasal dari non PDIP, maka hal pertama yang akan dinilai adalah soal kedekatan ideologi yang bersangkutan. "Ideologi kita, Pancasila 1 Juni. Apalagi Sumut itu pluralis," imbuh Ara, panggilan akrabnya.

Lebih lanjut putra Sabam Sirait itu mengatakan, setelah lolos dalam hal ideologi, barulah dilihat hasil survei yang mengukur tingkat popularitas. "Karena survei bisa untuk melihat kehendak publik," imbuh vokalis muda Senayan itu.

Lebih lanjut, anggota DPR itu mengatakan, setelah dua tahapan itu dilalui, maka akan dilihat seberapa besar dukungan kader PDIP Sumut terhadap Erry. Belum cukup. Seperti saat pilgub Sumut 2008, para kandidat akan menjalani ft and proper test yang dilakukan para petinggi partai. Penentuan calon juga akan diputuskan lewat rapat yang dipimpin langsung Ketum PDIP, Megawati Soekarno Putri.

Dia memastikan, DPP PDIP akan ekstra hat-hati dalam menentukan calon yang akan diusung di Pilgub Sumut 2013 mendatang. Alasannya, "Secara historis, Sumut merupakan basis tradisional PDI Perjuangan."

PDIP bertekad memenangkan pilgub Sumut, siapa pun yang nanti diajukan, entah dari kader sendiri atau non kader. Pilgub Sumut 2013, lanjut Ara, akan dijadikan momen untuk konsolidasi partai di wilayah Sumut.

Satu hal lagi yang ditekankan Ara, bahwa partainya tidak semata mencari tokoh yang populer. Apalagi, jika popularitas itu didongkrak dengan cara-cara menggalang pencitraan. "Sekarang bukan eranya lagi politik pencitraan, tapi politik kinerja. Kerja yang konkrit," imbuhnya. Terlebih, lanjutnya, Sumut memerlukan perubahan ke arah yang lebih baik. (sam/jpnn)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar