130 Ribu Warga Alami Dampak Kekeringan, Tetapi Belum Ada Status Darurat

130 Ribu Warga Alami Dampak Kekeringan, Tetapi Belum Ada Status Darurat
Sejumlah warga Gunung Kidul mengambil air bersih bantuan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Foto : Kementerian PUPR/Antara/HO

jpnn.com, GUNUNG KIDUL - BPBD Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat warga terdampak kekeringan mencapai 130 ribu jiwa.

Kepala BPBD Gunung Kidul Edy Basuki di Gunung Kidul, Minggu mengatakan kekeringan di wilayah Gunung Kidul meluas di 16 kecamatan dari 18 kecamatan yang ada.

"Banyaknya bantuan dari pihak luar, sehingga anggaran masih tersedia hingga beberapa hari ke depan. Hingga pertengahan Oktober 2019 wilayah Gunung Kidul belum hujan," kata Edy, 

Dia mengatakan kecamatan yang baru terdampak kekeringan yakni Kecamatan Karangmojo. Meski luasan terdampak kekeringan terus bertambah, hingga sekarang pemkab belum menetapkan status darurat kekeringan.

Alokasi anggaran 2019 untuk droping air sebanyak Rp530 juta, yang digunakan untuk membeli air dan kebutuhan droping seperti baham bakar minyak dan spare part mobil tangki.

Nantinya jika status kekeringan ditingkatkan pihaknya bisa mengakses anggaran belanja tak terduga dan bantuan pemerintah pusat.

Tapi karena armada yang dimiliki terbatas, maka kita bertahan dengan anggaran yang melekat di BPBD. Nanti setelah dananya akan habis status darurat baru akan ditetapkan.

"Statusnya belum meningkat karena masih memiliki stok bantuan dari pihak ke tiga, jadi belum ada peningkatan status," katanya.

Sampai saat ini pemkab belum menetapkan status darurat kekeringan meski luasan yang terkena dampak terus meluas.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News