JPNN.com

5 Hal yang Perlu Dilakukan Partai Gelora agar Tidak Layu Sebelum Berkembang

Jumat, 08 November 2019 – 17:21 WIB 5 Hal yang Perlu Dilakukan Partai Gelora agar Tidak Layu Sebelum Berkembang - JPNN.com
Fahri Hamzah, salah satu tokoh pendiri Partai Gelora. Ilustrasi Foto: Aristo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing memprediksi peluang Partai Gelora Indonesia yang digagas Fahri Hamzah dan kawan-kawannya tidak begitu menggembirakan.

Alasannya, masyarakat sudah sering melihat bahwa ketika ada ketidakpuasan politisi terhadap partai politik tertentu, lantas mendirikan parpol baru.

Menurut Emrus, Partai Gelora bisa berpeluang menjadi besar dan sukses kalau berani membuat dan mengimplementasikan perubahan. Dia menegaskan perubahan itu bukan sekadar slogan belaka, tetapi benar-benar diwujudkan.

"Kalau partai ini membawa angin perubahan yang sungguh-sungguh perubahan, dengan berbuat dan bertindak akan perubahan untuk Indonesia lebih baik ke depan, saya kira akan ada peluang," kata Emrus saat dihubungi JPNN.com, Jumat (8/11).

Dia pun memberikan sejumlah garis besar perubahan yang mesti dilakukan Partai Gelora. Pertama, kata Emrus, beranikah mereka menyatakan kalau kader terindikasi korupsi bahkan sudah berstatus tersangka akan dipecat. "Kenapa, karena masalah kita di Indonesia salah satu yang paling parah adalah korupsi," tegasnya.

Menurut dia, bisa dilihat korupsi sekarang ini masih kerap terjadi, tidak hanya di pusat tetapi juga di daerah, terutama yang berhubungan dengan pelayanan publik. Karena itu, dibutuhkan keberanian untuk memberantas korupsi. "Nah jadi berani tidak mereka katakan itu," tegasnya.

Kedua, berani tidak Partai Gelora mengatakan bahwa sumber keuangan partai bisa diaudit oleh setiap warga negara Indonesi. Artinya, kata dia, sumber keuangan partai itu tidak harus diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan saja, tetapi setiap rakyat bisa mengakses. "Jadi, rakyat yang ingin mengaudit keuangan partai, tidak hanya sekedar bisa mengakses, tetapi juga bisa mengecek validasi atau mengaudit pembukuannya," ungkapnya.

Ketiga, sambung Emrus, maukah mereka terbuka terkait urusan kekayaan pengurus dari pusat sampai ranting juga terbuka. Baik itu keuangan pribadi maupun perusahaan dan keluarganya.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...