Aceh 1000K

Oleh: Dahlan Iskan

Aceh 1000K
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

Dokter ahli pun menjadi kurang ahli: kurang sering mempraktikkan ilmunya. Lalu kita mencela dokter kita yang kalah dari luar negeri, padahal kitalah yang membuat para dokter itu kurang ahli.

Baca Juga:

Kita punya doktrin agama yang kurang pro-transplantasi: tidak boleh menyakiti mayat. Entah bagaimana riwayatnya mayat yang sudah tidak bisa merasa apa-apa dianggap masih disakiti saat diambil organnya.

Masih pula ada anggapan umum ini: mayat yang mendonorkan mata akan rusak wajahnya. Bola matanya dicungkil. Bolong. Jelek. Mengerikan.

Tentu anggapan itu tidak benar. Yang akan didonorkan hanyalah lapisan sangat tipis di luar bola itu. Tidak akan mengubah tampakan wajah mayat sedikipunt.

Saya harus bicara itu di IG live. Saya pun dibawa ke satu kafe. Penuh. Bising. Tidak bisa IG-live di situ.

Pindah ke kafe lain. Sama. Begitu banyak kafe. Penuh semua.

Saya ingat teman saya: juga punya kafe. Namanya Rumah Aceh. Saya minta pindah ke sana. Sepanjang perjalanan mata saya jelalatan: kafe di kanan, kafe di kiri, kafe di mana-mana.

Kafe Rumah Aceh itu milik Mirza, wartawan independen merangkap dosen hukum. Kalaupun di lantai bawah nanti penuh, bisa di lantai atas. Pun kalau atas penuh bisa di teras belakang.

ANDA sudah tahu gelar lama Aceh, tetapi saya baru tahu gelar terkininya: Kota 1000K. Seribu (Kedai) Kopi. gelar mana yang kini lebih populer. Serambi Makkah?

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News