ALAMAK! Makan Sahur ala Kadarnya, Gelap Gulita Pula

ALAMAK! Makan Sahur ala Kadarnya, Gelap Gulita Pula
Warga korban gelombang pasang pesisir pantai Ampenan, Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berada di tenda pengungsian dengan segala keterbatasan. FOTO: Lombok Post/JPNN.com

jpnn.com - PUASA kali ini menggoreskan cerita tersendiri bagi para pengungsi korban gelombang pasang pesisir pantai Ampenan, Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Mereka terpaksa harus berpuasa di pengungsian dengan segala keterbatasan.

HAMDANI WATHONI, Mataram

Tanah di pesisir pantai Bagek Kembar masih terlihat basah. Itu disebabkan gelombang pasang masih melanda wilayah ini hingga kemarin malam. Sisa air pantai yang membasahi tanah masih terlihat.

Di salah satu sudut lokasi, beberapa warga masih sibuk mengeluarkan pasir dari dalam rumahnya. Sementara para ibu rumah tangga nampak sedang duduk sambil memangku putra-putrinya di dalam tenda pengungsian milik Tagana Disosnakertrans Mataram.

Ya, mereka ini adalah warga asli Kota Mataram. Warga yang dilahirkan dan tumbuh besar di kota yang kini sedang berpacu menuju Kota Metropolitan.

Kemajuan Kota Mataram yang begitu pesat tak bisa disangsikan. Nama Mataram kini sudah kesohor di seluruh Nusantara bahkan Mancanegara.

Orang kini berbondong-bondong ingin datang ke Mataram. Entah dengan tujuan berwisata atau untuk berinvestasi. Namun di balik kemegahan Kota Mataram, terdapat sejumlah warga yang dari tahun ke tahun tetap merasakan hal yang sama. Berada dalam garis kemiskinan, keterbatasan, keterbelakangan dan terabaikan.

Warga Bagek Kembar adalah salah satu dari sekian banyak lingkungan yang belum bisa merasakan manisnya kemajuan Kota Mataram. Setiap tahun mereka selalu ditimpa bencana gelombang pasang. Meski demikian, mereka enggan meninggalkan lokasi tempat tinggal mereka karena tak tahu harus pindah ke mana.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News