Anak Buah Anies Baswedan Klarifikasi Isu Anggaran Toa Rp 4 miliar

Anak Buah Anies Baswedan Klarifikasi Isu Anggaran Toa Rp 4 miliar
Ilustrasi megafon alias toa. Foto: Pixabay

jpnn.com - Kepala Pusdatin BPBD DKI Jakarta Mohammad Insyaf mengklarifikasi isu pengadaan pengeras suara (speaker/toa) untuk peringatan banjir senilai Rp 4 miliar. Anak buah Gubernur Anies Baswedan itu mengatakan, anggaran tersebut untuk pengadaan enam set alat sistem peringatan dini digital (DWS) di enam titik dan bukan hanya untuk pengeras suara.

"Tahun 2020 ini, pengadaan enam set DWS anggarannya Rp 4,03 miliar, sesuai dengan nilai yang ada di e-budgetting," kata Insyaf saat dihubungi di Jakarta, Kamis (16/1).

Enam titik DWS tersebut, kata Insyaf, antara lain di Bukit Duri, Kebon Baru, Kedaung Kali Angke, Cengkareng Barat, Rawa Terate dan Marunda.

"Enam itu sudah memenuhi kebutuhan di Daerah Aliran Sungai (DAS). Menambah yang sudah ada sebelumnya 14 titik," ucap Insyaf.

Insyaf menjelaskan DWS tersebut berupa pengeras suara atau toa jarak jauh. Setiap DWS terdiri dari empat pengeras suara yang dipasang di satu tiang mengarah ke empat mata penjuru angin, dengan jarak dengar mencapai hingga 500 meter.

Namun, jelas dia, DWS tersebut terkoneksi dengan sistem peringatan dini banjir. Saat tinggi muka air bendungan atau pintu air mencapai siaga 3, DWS secara otomatis akan berbunyi sebagai peringatan banjir kepada warga.

"Ini (toa) berbunyi saat pintu air siaga 3, bersamaan dengan peringatan dini yang dikirimkan SMS blast dan WhatsApp grup kelurahan-kelurahan," ujarnya.

Lebih lanjut, selain pengadaan DWS, BPBD juga menganggarkan biaya pemeliharaan alat DWS yang keduanya dianggarkan dalam nomenklatur pemeliharaan dan pengembangan Pusdatin. Untuk pemeliharaan DWS, BPBD menganggarkan Rp 165 juta untuk 14 titik.

Kepala Pusdatin BPBD DKI Jakarta Mohammad Insyaf mengklarifikasi isu pengadaan pengeras suara (speaker/toa) untuk peringatan banjir senilai Rp 4 miliar.

Sumber Antara

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News