Analisis soal Muhammad Kece Digebuki Sesama Tahanan di Rutan Bareskrim

Analisis soal Muhammad Kece Digebuki Sesama Tahanan di Rutan Bareskrim
Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel saat menjadi narasumber Podcast JPNN.com. Foto: Andika Kurniawan/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Ahli psikologi forensik Reza Indragiri Amriel mengomentari kasus penganiayaan terhadap tersangka kasus penistaan agama Muhammad Kece oleh sesama tahanan di Rutan Bareskrim Polri.

Menurut Reza, memang sulit menciptakan lingkungan rutan atau lapas yang sepenuhnya bersih dari kekerasan.

"Saking maraknya perilaku agresif di dalamnya, sampai-sampai ilmuwan menggunakan istilah prison mindset dan prison culture. Kekuatan, kekuasaan, dominasi, dan sejenisnya, itulah aturan main di sana (rutan dan lapas, red)," kata Reza kepada JPNN.com, Minggu (19/9).

Peraih gelar MCrim (ForPsych) dari University of Melbourne, Australia, itu menyodorkan analisisnya soal penyebab kekerasan marak di penjara maupun rutan di tanah air.

"Ruangannya bukan berupa sel (satu ruangan diisi seorang), melainkan dormitory (asrama), maka kemungkinan terjadinya benturan memang terbuka setiap saat," ujar Reza

Oleh karena itu, katanya, sosok yang kuat di penjara maupun rutan pun menjadi penguasa.  "Konsekuensinya, ya, alami saja, yang kuat menang, yang lemah babak belur," sambung Reza.

Sebelumnya, tersangka kasus ujaran kebencian dan penistaan agama Muhammad Kosman alias Muhammad Kece diduga dianiaya di Rutan Bareskrim Polri. 

Terduga pelaku penganiayaan itu ialah mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Irjen Napoleon Bonaparte. 

Ahli psikologi forensik Reza Indragiri menyatakan memang sulit menciptakan lingkungan rutan atau lapas yang sepenuhnya bersih dari kekerasan.