Ancaman Kematian Tak Membuat Nelayan Indonesia Berhenti Mencari Ikan di Perairan Australia

Ancaman Kematian Tak Membuat Nelayan Indonesia Berhenti Mencari Ikan di Perairan Australia
Nelayan di Indonesia harus mempertaruhkan nyawa mereka di laut guna menghidupi keluarga. (ABC News: Ali Wu)

"Keluarga pasti kehilangan besar karena ayah atau anak-anak mereka tidak kembali lagi," katanya.

Namun Dr King mengatakan tidak ada hal yang bisa membuat jera para nelayan ini untuk melakukan perjalanan sampai 800 km dari tempat tinggal mereka karena mereka harus mencari nafkah bagi keluarga.

"Perikanan menjadi sumber pendapatan keluarga, bermanfaat bagi pendidikan anak-anak, untuk makanan, dan bisa menjadi penghasilan memadai bagi keluarga mereka," katanya.

Pada 2018, ada 210 nelayan Indonesia yang menjalani tahanan di Australia, kebanyakan berasal dari Papela, desa yang sama dengan mereka yang diselamatkan pekan ini.

Utang menjerat keluarga nelayan

Dr King mengatakan harga tinggi untuk produk makanan laut seperti teripang, sirip hiu, dan ikan karang di pasar Asia membuat para nelayan ini terus berusaha mengarungi laut menemukannya.

"Masalah lain adalah kadang mereka memiliki utang kepada pemilik kapal," katanya.

"Beberapa pemilik kapal ini sebenarnya memberi bantuan kepada keluarga di saat para nelayan melaut dan utang tersebut harus dibayar ketika mereka kembali.

"Bila perjalanan mereka menghasilkan banyak ikan, mereka bisa membayar utang-utangnya. Bila ikan yang didapat tidak banyak, mereka malah semakin terjerumus ke dalam utang yang lebih banyak lagi.

Di saat keluarga nelayan Indonesia di pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, sedang berkabung karena hilangnya anggota keluarga mereka di perairan Australia, muncul seruan agar pemerintah dan LSM berusaha mencari solusi baru

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News