Apresiasi Perhatian Publik, Pakar Berharap Kredit untuk Bomba Tetap Diaudit

Apresiasi Perhatian Publik, Pakar Berharap Kredit untuk Bomba Tetap Diaudit
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui laju pertumbuhan kredit masih terdampak pandemi Covid-19. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Isu seputar pinjaman yang diberikan BNI ke kelompok usaha Bomba Group sempat jadi topik hangat di Twitter beberapa pekan lalu. 

Tagar #BongkarSkandalBombaGroup dan #BNIWajibDiaudit pun viral di platform media sosial berlambang burung biru tersebut.

Pakar ekonomi dari Universitas Pelita Harapan Tanggor Sihombing menilai isu ini memang wajar mendapat perhatian besar dari masyarakat, mengingat nilai pinjaman grup usaha asal Sumatera Selatan (Sumsel) itu nilainya mencapai triliunan rupiah.

"Nominalnya yang besar, trilliun. Lalu, saat krisis ekonomi saat ini uang tunai (likuiditas) menjadi raja (king). Sehingga setiap uang menjadi rebutan dan sensitif untuk jadi viral," kata Tanggor kepada wartawan, Selasa (12/7).

Meski pihak BNI sudah menegaskan bahwa pinjaman tersebut tidak bermasalah sama sekali, Tanggor berharap audit tetap dilakukan. 

Hanya dengan begitu klaim BNI bisa dibuktikan dan kekhawatiran publik pun benar-benar terjawab.

Apalagi, tambah dia, industri batu bara yang merupakan bisnis utama Bomba Grup kini sedang lesu.

Karena itu, potensi kredit macet tidak boleh disepelekan.

Sebelumnya, Corporate Secretary BNI Mucharom membantah isu yang menyebut kredit untuk Bomba Group tak sesuai prosedur.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News