Arief Poyuono Minta Sri Mulyani Tidak Menebar Pesimistis

Arief Poyuono Minta Sri Mulyani Tidak Menebar Pesimistis
Sri Mulyani. Foto: JPNN

Dia menyatakan Sri Mulyani juga seharusnya menambahkan asumsi bahwa budaya ekonomi itu sudah melekat di masyarakat Indonesia sejak zaman nenek moyang terdahulu.

Contohnya, dalam kehidupan di daerah atau Jakarta, sering melihat tetangga atau kawan lewat depan rumah.

"Lalu, memanggil untuk singgah sebentar dan mengajak ngobrol dan minum kopi atau teh serta makanan ringan. Nah, kopi teh kan harus dibeli dan terjadi spending (belanja), iya nggak? Kebiasaan itu jarang dipunyai oleh bangsa lain," ujar Arief.

Artinya, Arief menjelaskan, harus optimistis bahwa setelah relaksasi PSBB dan tujuh program bantuan sosial (bansos) disalurkan, serta penggunaan dana penyelamatan ekonomi nasional bisa berjalan cepat, Indonesia tidak akan mengalami resesi ekonomi.

"Insting saya kok Indonesia tidak akan resesi ekonomi, ya. Malah, ekonomi kita akan tumbuh di atas tiga persenan di kwartal III dan IV," jelas Arief.

Dia berpendapat bila Menkeu Sri selalu menebar pesimistisnya dengan skenario-skenario yang berbasis laporan kertas dan lembaga-lembaga keuangan dunia, yang tidak juga melihat secara langsung kegiatan ekonomi di Indonesia, justru akan berdampak negatif bagi kondisi perekonomian nasional.

Hal ini, lanjutnya, juga akan membuat investor ragu-ragu atau memilih sikap wait and see untuk masuk maupun meneruskan investasinya ke Indonesia yang sempat terhenti di saat pandemi Covid-19.

"Juga terjadi penarikan modal besar-besaran dari pasar keuangan dan pasar modal di Indonesia," kata Arief.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono minta Menteri Keuangan Sri Mulyani turun ke lapangan dan melihat aktivitas ekonomi masyarakat saat ini.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News