Asyiknya Berbelanja di Toko Amal di Australia

Asyiknya Berbelanja di Toko Amal di Australia
Asyiknya Berbelanja di Toko Amal di Australia

Sebelum ini, kunjungan saya ke toko amal tidak terlalu sering, terjadi di sela-sela kunjungan ke toko-toko biasa.

Sekarang saya hanya berbelanja di toko amal dan tidak merasa butuh untuk membeli baju yang betul-betul baru. Saya bahkan mencari baju pengantin di toko amal ini karena di beberapa toko amal besar, mereka menjualnya.

2. Untuk membebaskan diri dari budaya konsumerisme

Asyiknya Berbelanja di Toko Amal di Australia
Mencari-cari apa yang bisa dibeli merupakan kenikmatan tersendiri dari berbelanja di toko amal. (ABC: Supplied).

Kadang saya merasa lelah dengan konsumerisme, khususnya bila harus membeli pakaian. Kadang saya pergi ke toko, menghabiskan banyak waktu untuk mencoba sesuatu, namun kemudian bingung apakah pakaian sedang ada diskon atau tidak. Juga bingung memutuskan apakah akan membeli atau tidak.

Bila akhirnya dibeli, kadang sampai di rumah rasanya capek, dan heran kok bisa menghabiskan waktu beberapa jam hanya untuk membeli satu potong baju. Seluruh proses ini adalah untuk memuaskan "kebutuhan', hal yang kemudian tidak juga membuat kita puas.

Dan belum lagi, kemudian timbul rasa bersalah, karena dampak lingkungan dari sikap konsumerisme ini, kalau melihat dari mana pakaian berasal dan nasib pekerja yang membuatnya.

3. Karena ini soal daur ulang, memberikan sesuatu untuk amal

Asyiknya Berbelanja di Toko Amal di Australia
Amy mengenakan jaket kulit dan sepatu boot, keduanya dibeli dari toko amal. Jaket seharga $20 (Rp 200 ribu) dan boot $30 (Rp 300 ribu). (ABC: Supplied)

Sulit mengatakan apakah saya pernah menyesal sehabis berbelanja di toko amal. Bila saya membeli sesuatu yang ternyata salah ukuran atau sama sekali tidak menarik, saya bisa saja menyumbangkan kembali ke toko amal lainnya.

Menyumbangkan pakaian ke toko amal menimbulkan kepuasaan yang sama seperti membeli dari mereka, karena kita menyumbang untuk amal, dan pakaian itu bisa digunakan lagi oleh yang lain, dan bukannya dibuang.

Juga, belanja di toko amal menutup kekhawatiran kita membeli baju yang dibuat oleh pekerja di dunia ketiga yang mendapat bayaran rendah. Jadi ini bukan sekadar menghemat.

Apakah anda bersedia untuk tidak membeli pakaian dan sepatu baru, dan hanya membeli pakaian bekas? Amy Robinson dari ABC Australia Plus memutuskan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

BERITA TERKAIT