Selasa, 11 Desember 2018 – 13:51 WIB

Australia-Timor Leste Setuju Berbagi Kekayaan Migas di Celah Timor

Rabu, 07 Maret 2018 – 12:00 WIB
Australia-Timor Leste Setuju Berbagi Kekayaan Migas di Celah Timor - JPNN.COM

Australia dan Timor Leste telah menandatangani perjanjian perbatasan maritim yang pertama antara kedua negara.

Poin Utama:

  • Kedua negara sepakat berbagi kekayaan migas di Greater Sunrise namun negosiasi masih berjalan
  • Australia menawarkan 80 persen revenue migas jika prosesnya dilakukan di Australia
  • Timor Leste minta 70 persen revenue namun prosesnya dilakukan di Timor Leste

Kesepakatan yang ditandatangani di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York diharapkan akan mengakhiri perselisihan mengenai cadangan minyak dan gas di Celah Timor.

Kedua negara sepakat untuk membagi pendapatan dari cadangan migas di lapangan Greater Sunrise, yang berada di antara Australia dan Timor Leste.

Tapi hingga sekarang belum ada kesepakatan mengenai lokasi pemrosesan migas, dan diperkirakan negosiasi mengenai masalah ini bisa menjadi sulit nantinya.

Australia menawarkan untuk memberikan 80 persen hasil dari pendapatan jika migas disalurkan ke Darwin. Sebaliknya, Timor Leste menginginkan 70 persen pendapatan jika diproses di negaranya.

Perunding utama Timor Leste yang juga mantan Presiden Xanana Gusmao, menuduh Australia berkolusi dengan perusahaan migas untuk memastikan cadangan sumber daya tersebut disalurkan ke Darwin dan bukan ke Timor Leste.

Negara tersebut ingin membangun pusat pengolahan migas di wilayahnya, namun Australia sangat skeptis mengenai kapasitas Timor Leste mengembangkan kemampuan tersebut.

Australia dan Timor Leste memuji kesepakatan perbatasan laut dalam pernyataan bersama bahwa kedua negara "menunjukkan kemauan dan kesiapan untuk berkompromi".

"Kedua negara bernegosiasi dengan itikad baik untuk mencapai sebuah perjanjian yang dipercaya adil, seimbang dan konsisten dengan hukum internasional oleh Timor Leste, Australia dan Komisi (Konsiliasi)," kata pernyataan tersebut.

Tapi potensi permasalahan di balik kesepakatan tersebut tampak jelas.

Sejarah Perjanjian Laut Timor

  • Tahun 1989 Australia dan Indonesia menandatangani Timor Gap Treaty ketika Timor Timur masih bagian Indonesia.
  • Timor Leste tidak memiliki perbatasa laut permanen dan Australia dan Indonesia akan berbagi kekayaan alam di Celah Timor.
  • Tahun 2002 Timor Leste merdeka dan Timor Sea Treaty ditandatangani, namun perbatasan laut permanen belum dibicarakan.
  • Timor Leste berpendapat perbatasan laut harus berada di titik tengah dengan Australia, menempatkan lapangan migas Greater Sunrise dalam wilayah mereka.
  • Tahun 2004 Timor Leste memulai negosiasi dengan Australia terkait perbatasan laut.
  • Tahun 2006 perjanjian CMATS ditandatangani, namun perbatasan laut permanen belum ditentukan, dan mengatur kekayaan migas di Greater Sunrise akan dibagi adil di antara kedua negara.

Menteri Luar Negeri Julie Bishop mengatakan bahwa pengembangan Greater Sunrise "memerlukan dukungan perusahaan patungan migas swasta yang kapasitasnya untuk mengembangkan dan mengoperasikan proyek akan bergantung pada kelayakan ekonominya".

Bishop berharap bisa melihat Timor Leste memanfaatkan sumber daya alam tersebut.

"Kami menginginkan Timor Leste menjadi tetangga yang stabil dan sejahtera. Karena itulah kami ingin melihat proyek ini dikembangkan, yang secara ekonomi dapat bertahan dalam jangka panjang untuk memberikan manfaat maksimal," katanya.

Perusahaan patungan yang dipimpin raksasa energi Woodside, berpendapat bahwa perpipaan gas ke Timor Leste tidak layak secara ekonomi, karena jalur pipa harus melintasi ceruk bawah laut sedalam lima kilometer.

Namun Dili bersikukuh dengan rencananya. Mereka ingin mengembangkan Greater Sunrise secepat mungkin, karena negara itu sangat bergantung pada pendapatan migas, sementara cadangan migas mereka saat ini diperkirakan akan habis dalam satu dekade.

Wakil Perdana Menteri Timor Leste Agio Pereira mengatakan kedua negara sekarang akan melanjutkan pembicaraan mengenai pengembangan Greater Sunrise.

"Negosiasi ini sangat sulit. Memang tidak mudah. Dan penting bagi Australia dan Timor Leste untuk mencapai keberhasilan," katanya.

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris di sini.

 
SHARES
Komentar