Bajak Laut Hidup Sangat Mewah di Gulf of Aden

Bajak Laut Hidup Sangat Mewah di Gulf of Aden
Bajak Laut Hidup Sangat Mewah di Gulf of Aden
SOMALIA - Kawasan perairan laut Somalia, Gulf of Aden, adalah tambang emas bagi titisan Admiral hook; para bajak laut. Di negara miskin yang tak putus dirundung konflik itu, mereka hidup bak raja. Bergelimang harta. Ternyata bajak laut menjadi profesi baru yang sangat menjanjikan keuntungan materi bagi pemuda desa di sekitar negara “tak bertuan” itu.

Hasil penelusuran BBC terhadap para pembajak  kapal Ukraina, MV Faina, yang mengangkut peralatan militer menuju Kenya itu berbuah pertanyaan baru. Siapakah mereka para penyamun di air bergaram itu? dari hasil penuturan warga, mereka tak lain orang-orang kaya baru, yang dari penghasilannya sebagai bajak laut, mampu memenuhi apapun kehendaknya.

’’Mereka punya uang, punya kekuatan dan semakin kuat dari hari ke hari,’’ kata Abdi Farah Juha, seorang warga yang tinggal di Garowe. Sebuah kota di Somalia. Dengan harta yang menggunung, tak heran, mereka bisa menikahi gadis paling cantik, membangun rumah megah nan besar, membeli mobil-mobil jenis terbaru, termasuk juga membeli senjata untuk keperluan “pekerjaan” atau melindungi diri sendiri. Cara berpakaian pun tak seperti “pencopet” kampungan yang dekil. Mereka gaul fesyen.

Membajak kapal dengan gaya parlente. Rata-rata USD 2 juta (sekitar Rp 21,3 miliar) mengalir kekantong mereka dari hasil uang tebusan kapal. Di negaranya sendiri, profesi bajak laut bukan pekerjaan buruk. Mereka diterima sebagaimana biasanya dalam lingkungan sosial. Usia preman laut itu sekitaran 20-35 tahun. Mereka bekerja penuh resiko demi cara mudah mendapatkan uang dan hidup bergaya.

SOMALIA - Kawasan perairan laut Somalia, Gulf of Aden, adalah tambang emas bagi titisan Admiral hook; para bajak laut. Di negara miskin yang tak

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News